Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 April 2010

CONDUCT DISORDER

A. Pendahuluan
Di antara permasalahan yang acapkali dihadapi sejumlah keluarga, lembaga sekolah, dan badan-badan penampungan anak adalah kecenderungan anak untuk mengacau, menyakiti, dan mengganggu orang lain. Perilaku dan perbuatan tersebut akan menimbulkan berbagai kesulitan dan kekacauan. Bahkan, kecenderungan buruk itu dapat memicu kedua orang tua sang anak—baik penindas maupun tertindas—untuk selalu bertengkar sengit.
Seorang anak yang di lorong-lorong jalan atau sekolah—dengan alasan apapun—suka berbuat jahat kepada anak-anak lain, menyakiti anak yang lebih kecil atau lebih besar dari dirinya, suka menarik rambut anak perempuan sampai menangis, tentunya akan merepotkan orang tuanya, sekaligus menimbulkan kejengkelan dan kekesalan orang tua anak yang disakiti.

B. Pengertian
Conduct disorder atau perilaku mengganggu atau mengacau merupakan suatu pola negativistik, permusuhan dan perilaku menentang yang terus-menerus tanpa adanya pelanggaran serius terhadap norma sosial atau hak orang lain. Biasanya dimulai pada usia 6-8 tahun dan tidak lebih dari masa remaja. Lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan pada anak lelaki. Ciri-ciri umum conduct disorder antara lain:
  1. Sering berdebat dengan orang tua
  2. Sering kehilangan kendali
  3. Mudah marah dan benci jika digangggu orang lain
  4. Sering menggertak, mengancam, menakut-nakuti orang lain
  5. Sering memulai perkelahian fisik
  6. Melakukan kekejaman fisik terhadap orang lain atau hewan
  7. Secara sengaja merusak harta benda orang lain
  8. Berbohong untuk mendapatkan barang atau persetujuan, atau unyuk menghindari kewajiban
  9. Mencuri
  10. Sering bermain diluar rumah pada malam hari atau kabur dari rumah
  11. Sering membolos sekolah dan sering melanggar peraturan

Biasanya lebih sering ditemukan pada seting rumah dan bukan diluar rumah dan biasanya lebih sering terjadi pada orang yang dikenal baik. Dalam beberapa kasus maksimal adalah teman sendiri. Anak dengan gangguan ini biasanya tidak merasa dirinya sebagai penentang, tetapi mengakui bahwa perilaku yang ditunjukkan adalah sebagai respon terhadap keadaan yang tidak dapat diterima.

C. Penyebab Conduct Disorder
Penyebab seorang anak memiliki perilaku mengganggu atau mengacau semacam itu menyimpulkan bahwa faktor-faktor penyebabnya adalah sebagai berikut:

1. Mental (kejiwaan), meliputi:
Anggapan bahwa orang-orang dimaksud berusaha menghalangi usahanya meraih tujuan
Kegagalan dan kekurangan. Dalam hal ini, tindakan mengganggu dan menyakiti merupakan usaha menutupi kegagalan dan kekurangan dirinya, serta demi mendapatkan ketenangan batin
Ingin melenyapkan berbagai ganjalan yang bersemayam dalam jiwanya. Ganjalan jiwa tersebut mendorong munculnya berbagai kelainan sikap dan perilaku
  • Perasaan congkak dan sombong
  • Perasaan bersalah dan berdosa, sehingga menyebabkan sang anak selalu gelisah. Dalam hal ini, dia akan melakukan apa saja demi memperoleh ketenangan jiwa
  • Kelainan jiwa; sang anak menganggap dirinya singa yang buas, yang siap menerkam dan mencabik-cabik orang-orang di sekitarnya. Gangguan psikopatis yang menjadikan sang anak bersikap dan berperilaku abnormal serta cenderung ofensif (menyerang)
  • Ingin memperingatkan diri sendiri agar dihukum orang lain
  • Perasaan hina dan rendah diri (inferior). Tindakan mengganggu dan menyakiti sesama dimaksudkan untuk mematahkan perasaan tersebut
  • Perasaan lemah dan tak mampu mnyelesaikan berbagai kesulitan masa lalu
  • Trauma masa lalu
  • Timbulnya gejolak kejiwaan yang diarahkan untuk melakukan perlawanan. Dalam hal ini, tindakan mengganggu dan menyakiti orang lain dijadikan alat meraih ketenangan dan ketentraman jiwanya

2. Emosi, meliputi:
  • Kurang atau bahkan tak pernah mendapatkan curahan kasih sayang. Keadaan ini membuat kehidupan sang anak gelap-gulita sehingga tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
  • Berelebihan dalam memperoleh curahan kasih sayang. Keadaan ini mendorong sang anak banyak menuntut, serta menganggap orang lain berada dibawah kekuasaannya. Hal ini menjadikannya merasa bebas mengganggu dan menyakiti orang lain
  • Kedengkian, faktor ini kebanyakan muncul dalam diri seorang anak yang memiliki adik baru yang masih bayi. Ia beranggapan bahwa adiknya yang masih mungil itu telah merampas kasih sayang yang selayaknya ia terima. Namun, terdapat pula anak kecil yang mendengki saudaranya yang lebih besar atau anak bebal terhadap saudaranya yang cerdas
  • labil sehingga cenderung melakukan hal-hal yang tidak wajar
  • Keinginan memusuhi siapapun yang tidak disukai dan disenanginya. Ia selalu merasa dirinya tidak aman
  • Perasaan bingung dan gelisah. Dalam hal ini, sang anak kehilangan semangat serta mudah jengkel dan sakit hati. Hanya lantaran persoalan kecil dan remeh, ia langsung menggebu-gebu untuk melakukan pembalasan secara berlebihan
  • Cenderung melakukan sadisme. Dalam hal ini, ia merasa nikmat dan puas dalam melakukan tindakan sadistis. Perasaan ini lebih banyak dipendam anak-anak yang telah dewasa
  • Kematian ayah atau ibu
  • Diskriminasi atau merasa dibeda-bedakan serta merasa tidak diperlakukan adil
3. Pendidikan
Ada kalanya kecenderungan menggangu atau menyakiti bersumber dari proses pendidikan. Disini anak belajar dan meniru perbuatan orang lain yang diyakininya dapat dijadikan sarana yang mempermudahnya dalam meraih tujuannya.
Betapa banyak orang tua yang sacara tidak sadar, menerapkan sistem kekerasan dalam lingkungan rumah tangganya. Atau berlebihan dalam megasihi dan menyayangi anak. Cara-cara semacam itu hanya akan merusak dan menghancurkan kehidupan anak-anaknya di masa depan. Mereka akan unjuk kekuatan dan kekerasan yang lama kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan yang tak terpisahkan.
Kecenderungan seperti itu juga dapat berasal dari doktrin lingkungan setempat, baik sengaja maupun tidak.

4. Sosial
Kecenderungan anak mengganggu dan menyakiti adakalanya bersumber dari masyarakat:
  • Pergaulan dengan anak-anak amoral. Sang anak cenderugn meniru dan mengikuti tingkah laku mereka yang jahat dan suka menyakiti sesama.
  • Anak yang hidup dan dibesarkan di tengah-tengah lingkungan yang dipenuhi tindak kekejaman dan kekerasan.
  • Hubungan serta pergaulan yang dijalin bersifat amoral dan asusila. Seorang anak yang masa kanak-kanaknya pernah dizalimi, disakiti, atau dilecehkan secara seksual, pada umumnya akan cenderung menyakiti siapapun yang dianggapnya lemah.
  • Dikarenakan ingin meniru dan membalas dendam. Ketidakmampuan untuk membalas dendam terhadap berbagai perlakuan kasar yang ia terima, akan menyebabkan dirinya berbuat kasar dan manyakiti orang lain.
  • Berasal dari tingkat ekonomi yang kurang berada dan tidak mampu mencapai status sosial yang bagus, karena ingin memiliki materi-materi (barang-barang) yang tidak dapat dimiliki dengan cara yang tidak daptditerima secara sosial dalam masyarakat.

5. Kehidupan
Sejumlah pakar psikologi meyakini bahwa faktor kehidupan dan genetik dapat mendorong anak menggangu dan menyakiti orang lain. Mereka menyatakan bahwa secara fitriah dan kodrati, sebagian manusia itu memiliki kecenderungan jahat dan menyimpang. Hal itu disebabkan karena mereka memiliki kelebihan kromosom.
Disamping itu , kita juga harus menyadari bahwa faktor kehidupan juga dapat mempengaruhi sejumlah perkara. Misalnya, buruk rupa, menderita sakit kronis yang berkepanjangan, kurang tidur, mudah letih gangguan syaraf, dan gangguan pencernaan.
Seorang anak yang menderita penyakit yang susah untuk disembuhkan dan senantiasa diejek oleh temannya lantaran memiliki kekurangan atau cacat, atau kondisi syaraf yang rentan dan mudah tersinggung, besar kemungkinan akan melakukan tindakan buruk dan tercela. Jadi tindakan menyakiti bukanlah sepenuhnya berasal dari fitrah dan kodratinya, melainkan lingkungan dan kondisi yang terbentuk didalamnya. Pedapat ini sesuai dengan Islam; tindakan criminal , kekerasan, dan penyimpangan pada dasarnya berakar dalam batang tubuh masyarakat.

6. Lain-lain
Di antara sejumlah faktor yang telah disebutkan, masih terdapat sejumlah faktor lain yang mendorong seorang anak menyakiti sesamanya, antara lain:
  • Faktor pertumbuhan sikap dan kebiasaannya. Sewaktu berusia 2 tahun, sang anak misalnya suka mencakar, merebut, menendang, menarik rambut dan sejenisnya. Semua itu termasuk dalam kategori menyakiti dan akan kian menjadi-jadi seiring dengan proses pertumbuhan dirinya.
  • Merasa memiliki. Perasaan ini mulai muncul sejak sang anak mulai menginjak usia 3 tahun. Dalam hal ini, sang anak akan berusaha menjaga dan mempertahankan kepemilikannya dengan menggunakan cara-cara yang beraroma kekerasan.
  • Ketidaksanggupan memberi kejelasan kepada orang tua (kedua orang tua tidak mampu memahami ucapan dan perkataan sang anak). Akibatnya, demi melampiaskan kekesalannya itu serta menenangkan hatinya, ia akan menjerit, memporak-porandakan benda-benda disekitarnya, memukul orang lain, dan sebagainya.
  • Memakasa kedua orang tua menuruti keinginannya. Caranya adalah dengan menjadikan kedua orang tuanya merasa bosan dan jemu. Sang anak beranggapan bahwa itu semata-mata merupakan haknya.
  • Egoisme berlebihan. Dalam keadaan ini sang anak menganggap orang lain tak lebih sebagai budaknya belaka yang dapat diperlakukan sesuka hati dan harus menuruti kemauannya.
  • Penyikasaan dan penganiayaan anak. Misalnya trumatis, anak menjadi sangat waspada secara berlebihan, selalu curiga dengan lingkungan, tidak mampu mengekspresikan perasaan sehingga sangat mudah meledak dan juga sangat agresif dan sering bersikap kejam.

D. Individu yang Menjadi Korban
Conduct disorder tidak membeda-bedakan korban antara yang kecil dan yang besar, kuat maupun lemah. Ia tak ubahnya seekor kalajengking yang akan menyengat apapun yang ada disekitarnya; jiak mampu akan disengatnya, jika tidak akan melarikan diri.
Disamping itu, anak-anak yang suka mengganggu dan meyakiti orang lain—sesuai tingkat kecerdasan dan pengetahuannya—akan menjadikan anak-anak yang tidak terlalu berdampak negatif bagi dirinya sebagai sasaran. Sekalipun sebagian besar dari mereka sama sekali tidak memikirkan apapun dampak yang akan timbul darinya. Berdasarkan sebuah penelitian, disimpulkan bahwa tipe anak-anak yang cenderung dan disakiti antara lain:
  • Anak-anak penakut, lemah, tak mampu membela diri, serta tak punya kesanggupan untuk mengungkapkan ketertindasannya kecuali dengan menangis.
  • Anak-anak kecil yang tak punya kemampuan untuk melawan dan mempertahankan diri.
  • Anak-anak yang sibuk bermain dan menjalankan aktifitasnya, lalu tiba-tiba diserang dan diganggu
  • Anak-anak yang mengenyam pendidikan dengan benar, dimana harga dirinya tidak membenarkan untuk melakuakan pertengkaran dan perkelahian
  • Anak-anak yang sendirian dan tak punya pelindung, yang sering manyendiri di sudut-sudut tertentu seraya menyaksikan anak-anak lain beraktifitas
  • Anak-anak yang mudah percaya, atau bahkan kurang akal sehingga tak mampu memahami keadaan diri dan sekelilinganya
  • Anak-anak yang lebih besar dan dalam keadaan lengah juga dapat menjadi sasaran gangguan. Jelas itu akan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi sehingga sang korban tidak menyadarinya dan tak dapat melakukan pembalasan

E. Dampak Untuk Masa Depan Anak Penderita Conduct Disorder
Bila tindakan mengganggu dan menyakiti anak lain hanya bersifat kebetulan semata dan hanya terjadi pada satu atau dua kasus saja, maka itu tidak terlalu mencemaskan; sang anak melakukan perbuatan tidak baik, kemudian menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Namun, mala petaka akan segera muncul apabila perbuatan itu dilakukan secara berkelanjutan atau menjadi semacam kebiasaan.
Pribadi-pribadi smacam ini, dalam tempo yang tidak terlalu lama, akan tumbuh menjadi manusia yang zalim, kejam, dan bertindak kriminal. Sikap anti sosial kebanyakan muncul dari kebiasaan tersebut. Saking seringnya berebuat keburukan, mereka pun akan terbiasa dan tidak lagi merasa malu melakukannya. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka melakukan kejatan tersebut dengan tanpa sadar atau demi memuaskan kecenderungan batinnya.
Sebagian besar dari mereka yang telah berumah tangga melangkah diluar jalur keadilan dan tidak memiliki hubungna yang harmonis dengan anggota keluarganya. Mereka menganggap anak dan isterinya sebagai penyebab keguncangan dan kehancuran rumah tangga.
Tak kala seseorang memiliki kepribadian menyimpang kemudian hendak dipraktikan dalam kehidupannya, bila tidak mampu kepada oranglain, niscaya ia akan mempraktikannya kepada anggota kelurganya sendiri. Ia tidak lain dari orang yang zalim. Baginya, masalah keadilan sama sekali absured dan nihil belaka.
Begitu pula dengan kelompok anak-anak yang memiliki kecenderungan yang sama. Dimasa datang, mereka tak akan tumbuh menjadi orang-orang yang disenangi dan dikerumuni teman-temannya. Orang-orang yang mendekati atau berada di sekelilingnya hanyalah orang-orang yang memiliki kebutuhan yang sangat mendesak, atau merasa takut dan ngeri terhadap kebengisannya. Orang-orang semacam ini tak akan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Sikap dan perbuatannya semata-mata mengobarkan api permusuhan. Jelas, itu tidak akan menarik orang lain untuk menjadi sahabatnya. Ditengah masyarakat mereka tak punya kehormatan dan harga diri.

F. Contoh Kasus
Julie seorang anak yang mengidap penyakit bipolar (salah satu jenis gangguan conduct disorder). Julie sangat mudah kesal sejak lahir. Dia jarang tidur dan tidak bisa ditenangkan. Suatu hari sewaktu Julie berusia enam tahun, dia marah kepada ibunya karena memberinya waktu istirahat. Untuk sementara lantai atas sangat sepi, yang sebenarnya tidak biasa, dan ibunya naik ke atas untuk melihat Julie. Ibunya melihat Julie sedang memasang sekitar 50 jepit rambut di atas tangga, sengaja di posisikan berdiri di atas karpet. Itu sebenarnya diperuntukkan bagi ibunya saat melangkah.
Keluarganya sudah mengalami hampir tiga tahun keadaan Julie seperti itu. Setidaknya satu kali sehari, Julie mangamuk sampai dua jam. Dia akan berteriak dan berguling-guling di lantai. Dia seperti mempunyai kekuatan manusia super dan sering memukuli ibunya. Banyak kejadian saat ibunya harus mengekang Julie dan menjaganya untuk tidak menyakiti orang lain. Dia akan menendang, memukul, mencubit, menggigit, meludahi, bahkan membenturkan kepala ibunya. Dia mempunyai pandangan liar di matanya yang nyaris seperti hewan yang akan meledak memperjuangkan kehidupannya.

G. Terapi Untuk Conduct Disorder
Ada metode-metode terapi yang berbeda untuk membantu anak belajar bagaimana merasa lebih baik secara emosional, berinteraksi lebih baik dengan orang lain dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dalam banyak kasus, terapis akan menggunakan pendekatan apa saja yang terbaik bagi anak.

1. Terapi Kognitif
Terapi perilaku kognitif adalah satu yang paling umum dan jenis terapi yang berhasil untuk gangguan bipolar. Hal itu berfokus pada situasi dan masalah aktual saat ini. Terapi ini tertuju pada pikiran dan perasaan (kognitif) serta tindakan (perilaku) serta bagaimana saling mempengaruhi satu sama lain. Anak bisa belajar kemampuan khusus yang membantunya mengenali kapan ia mengalami distorsi persepsi terhadap persepsi, memodifikasi keyakinan, dan mengubahnya ke arah perilaku yang lebih pantas saat merespon situasi seperti itu.
Perawatan anak yang mengalami conduct disorder mungkin juga termasuk terapi bermain, saat ia terlibat pada aktivitas berbeda dalam upaya menciptakan kesempatan untuk mengarahkan frustasi, pilihan, dan pendekatannya. Hal ini cukup membantu bagi anak-anak yang belum bisa mengungkapkan perasaannya dalam kalimat.

2. Program Terapi Multimodalitas
Program terapi ini melibatkan seluruh anggota elemen kejidupan anak seperti keluarga, masayarakat dan sekolah. Sebaiknya terapi ini sesegera mungkin dilakukan, semakin terlambat dilakukan maka anak semakin sulit disembuhkan.

3. Terapi Medikasi
Medikasi dapat menjadi terapi tambahan yang berguna untuk sejumlah gejala yang sering terjadi pada gangguan konduksi. Agresi eksplosif yang jelas berespon terhadap beberapa medikasi. Antipsikotik, terjelas adalah haloperidol (haldol), menurunkan perilaku agresif yang menyerang yang mungkin ditemukan dalam berbagai gangguan.

4. Beberapa Cara Altenatif Lainnya
Dalam usaha memperbaiki dan membenahi sikap anak agar tidak lagi cenderung mengganggu, menyakiti, apalagi meyikasa sesamanya, perlu ditempuh pula cara-cara altenatif berikut ini:
  • Menjauhkan anak-anak—khususnya yang lemah—dari jangkauannya, sehingga tidak menjadi korban perbuatan buruknya.
  • Memperhatikan serat mengawasi tingkah lakunya, khususnya sewaktu ia berada di lingkungan baru
  • Menasihati serta mengingatkannya secara rutin bahwa perbuatannya itu buruk dan tercela
  • Memberi kesibukan kerja, bermain, atau beraktivitas positif lainnya. Itu agar anak-anak lain merasa aman dari gangguan perbuatan buruknya.
  • Memandang denan tajam adirinya memahami apa yang sedang dilakukannya
  • Memperingatkan anak-anak lain agar berhati-hati kepadanya. Kalau perlu, anjurkan untuk melawan perbuatan buruknya
  • Mengenali problem dan kesulitan yang tengah dihadapi sang anak, sehingga kita, mampu mencegahnya mengganggu dan menyakiti anak lain
  • Menyediakan sarana dan membangun lingkungan yang dapat menciptakan ketenangan dan kedamaian jiwa sang anak
  • Dalam lingkungan keluarga, setiap anak diberi tempat tertentu yang tidak boleh diutak-atik anak lain. Itu dimaksudkan agar di antara mereka tidak terjadi upaya saling mengganggu dan menyakiti


Sumber:

Kaplan, H.I, Benjamin J.S, & Jack A.G. 1997. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jakarta: Binarupa Aksara.

Qaimi, A. 2004. Keluarga dan Anak Bermasalah. Bogor: Cahaya.

Singer, C & Sheryl Gurrentz. 2004. Menangani Gangguan Manik-Depresif pada Anak. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.

Komputer yang Cerdas Apakah Bisa Menggantikan Manusia??


Telah kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Itu karena manusia memliki akal dan pikiran yang tidak dimiliki makhluk lain.


Perkembangan dunia semakin cepat, itu membuktikan akal dan pikiran manusia yang semakin berkembang pula. Telah banyak hal-hal yang telah manusia ciptakan, salah satunya adalah benda-benda canggih berteknologi tinggi.


Diantara benda canggih itu adalah komputer. Siapa yang tidak mengenal komputer? Alat cerdas ini telah sebagian besar membantu proses kerja manusia dengan lebih singkat. Komputer tidak hanya terpatok pada sebuah layar, keyboard dan mouse, namun semua alat canggih yang menggunakan mesin yang membantu kerja manusia cepat selesai dapat dikatakan sebagai komputer. Misalnya saja alat untuk mendeteksi alat kelamin bayi yang ada di dalam kandungan apakah itu perempuan atau laki-laki, mendeteksi kelainan janin lebih dini dan gerakan janin dapat dilihat jelas seperti melihat film animasi, digunakanlah USG (Ultra Sono Grafi). Ataupun misalnya CCTV (Closed Circuit Television), penggunaan kamera video untuk mentransmisikan signal video ke tempat spesifik, dalam beberapa set monitor.


Manusia memiliki 5 alat indera dan ini pun tidak jauh berbeda seperti yang ada di komputer. Jika manusia memiliki mata untuk melihat, komputer memiliki scanner. Jika manusia memiliki hidung untuk mencium bau, komputer memiliki sensor asap. Jika manusia memiliki telinga untuk mendengar, komputer memiliki sensor suara. Jika manusia memiliki kulit untuk merasakan raba atau sentuhan, komputer memiliki sensor suhu. Jika manusia memiliki mulut untuk makan, komputer…..???


Lalu apakah komputer yang cerdas dapat menggantikan manusia?? Bagaimana pun juga komputer adalah alat yang dikendalikan oleh manusia. Sedangkan manusia, tentu saja yang mengendalikan semuanya adalah dirinya sendiri.


Jadi kawan, siapa yang lebih cerdas menurut kalian? ;)



mellanie_imoet
E-learning

Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.[1]

Disamping e-learning yang mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis, e-learning juga mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran. Dalam e-learning, faktor kehadiran guru atau pengajar otomatis menjadi berkurang atau bahkan tidak ada. Hal ini disebabkan karena yang mengambil peran guru adalah komputer dan panduan-panduan elektronik yang dirancang oleh "contents writer", designer e-learning dan pemrogram komputer.

Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah :
  • Melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir
  • Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya
  • Mengontrol kegiatan belajar peserta didik.
Sedangkan kekurangan e-learning adalah kehadiran guru sebagai makhluk yang hidup yang dapat berinteraksi secara langsung dengan para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik e-learning ini. Sebagaimana asal kata dari e-learning yang terdiri dari e (elektronik) dan learning (belajar).[1]

E-learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.[2]

Salah satunya adalah program Tutorial. Tutorial merupakan suatu program yang dirancang untuk bertindak sebagai tutor atau guru. CAI tutorial menyajikan informasi atau konsep baru melalui monitor, dan siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan informasi atau konsep baru tersebut. Komputer berperan layaknya sebagai seorang guru. Siswa harus bisa berpartisipasi aktif dalam proses belajarnya dengan berinteraksi dengan komputer. Materi pelajaran dalam satu sub pokok bahasan disajikan lebih dulu kemudian diberikan soal latihan. Respon siswa kemudian dianalisis komputer dan siswa diberi umpan balik sesuai dengan jawabannya (Gifalytwinsa, 2010). [3]

Sumber :
[1] Anonim . (2010). Pembelajaran elektronik. http://en.wikipedia.org/wiki/E-learning.
[2]http://elearning.gunadarma.ac.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=13&Itemid=39
[3] Gifalytwinsa. (2010). Model pembelajaran cai dan penerapannya di sd. http://gifalytwinsa.wordpress.com/2010/01/07/model-pembelajaran-cai-dan-penerapannya-di-sd/.



Minggu, 03 Januari 2010

APAKAH CEMAS, STRESS, DAN DEPRESI ITU?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia tak luput dari adanya masalah kahidupan yang kerap kali mengganggu pikiran kita ataupun perubahan-perubahan sosial yang serba cepat yang dapat mempengaruhi nilai-nilai moral, etika, dan gaya hidup. Tidak semua orang mampu menyelesaikan masalahnya ataupun menyesuikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut, yang pada akhirnya akan mengalami cemas, stress atau bahkan depresi.
Jadi apakah cemas, stress, dan depresi itu sebenarnya? Berikut pengertian dari ketiganya.

Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA, masih baik), kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/splitting of personality), perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal.

Tipe kepribadian pencemas:
  • cemas, khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang
  • memandang masa depan dengan rasa was-was
  • kurang percaya diri, gugup apabila tampil di muka umum (demam panggung)
  • sering merasa tidak bersalah, meyalahkan orang lain
  • idak mudah mengalah, suka “ngotot”
  • gerakan sering serba salah, tidak tenang bila duduk, gelisah
  • sering mengeluh ini dan itu (keluhan somatik, khawatir berlebihan terhadap penyakit)
  • mudah tersinggung, suka membesarkan masalah yang kecil
  • bila mengemukakan sesuatu seringkali diulang-ulang
  • kalau sedang emosi seringkali bertindak histeris

Bentuk-bentuk gangguan kecemasan:
  1. Gangguan Kecemasa Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder/GAD), secara klinis selain gejala cemas yang biasa, disertai dengan kecemasan yang menyeluruh dan menetap (paling sedikit berlangsung selama satu bulan).
  2. Gangguan Panik, gangguan panik ini yaitu kecemasan yang datangya mendadak disertai oleh perasaan takut mati, disebut juga serangan panik (panic attack).
  3. Gangguan Phobik, gangguan phobik adalah salah satu bentuk kecemasan yang didominasi oleh gangguan alam pikir phobia. Phobia adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek, aktivitas atau situasi tertentu, yang menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk menghindarinya.
  4. Gangguan Obsesif –Kompulsif, obsesi adalah suatu kecemasan yang didominasi oleh pikiran yang terpaku dan berulang kali muncul, sedangkan kompulsi adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sebagai konsekuensi dari pikiran yang bercorak obsesif tadi

Stress (Hans Selye, 1950) adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya dimana yang bersangukan mengalami beban pekerjaan atau masalah yang berlebihan.

Tipe-tipe kepribadian (pola perilaku)
1. Tipe A (yang beresiko tinggi terkena stress)
  • ambisius, agresif, dan kompetitif (suka persaingan), banyak jabatan rangkap,
  • kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah,
  • cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam,
  • bekerja tidak mengenal waktu (workaholic),
  • tidak mudah dipengaruhi, kaku,
  • bila berlibur pikirannya ke pekerjaan, tidak dapat santai,
  • berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali, dll.

2. Tipe B (yang tidak beresiko tinggi terkena stress)
  • ambisinya wajar-wajar saja, tidak agresif
  • sehat dalam berkompetisi serta tidak memaksakan diri,
  • penyabar, tenang, tidak mudah tersinggung,
  • cara bicara lancar tidak tergesa-gesa, bertindak pada saat yang tepat,
  • apat mengatur waktu dalam pekerjaan,
  • tidak kaku,
  • dapat membebaskan diri dari segala macam problema kehidupan dan pekerjaan manakala sedang berlibur,
  • mampu mengendalikan diri, dll.

Depresi adalah gangguang perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup.

Ciri kepribadian depresif:
  • pemurung, sukar untuk bisa senang, sukar untuk merasa bahagia,
  • pesimis menghadapi masa depan,
  • memandang diri rendah,
  • mudah merasa bersalah dan berdosa,
  • mudah mengalah,
  • enggan bicara,
  • mudah merasa sedih, haru, menangis,
  • erakan lamban, lemah, lesu, kurang energik,
  • seringkali mengeluh sakit ini dan itu,
  • mudah tegang, gelisah,
  • serba cemas, khawatir, takut,
  • tidak ada kepercayaan diri,
  • suka menarik diri, pemalu, pendiam,
  • tidak ada kepercayaan diri, dll.

Macam-macam depresi:
  1. Depresi Pasca Kuasa, dimana seseorang yang memiliki jabatan kemudian suatu saat jabatan itu hilang, hilang pula kekuasaan dan kekuatannya, dampaknya adalah terganggunya keseimbangan mental emosional dengan munculnya berbagai keluhan fisik, kecemasan dan depresi.
  2. Depresi Neurotik (Gangguan Distimik), suatu gangguan afek (mood) yang menahun dan mencakup gambaran afek (mood) depresif atau hilangnya minat atau rasa senang di dalam semua aktivitas kehidupan yang biasa dilakukan.
  3. Depresi Siklotimik, seseoraang yang mengalami gangguan ini paling sedikit dalam kurun waktu dua tahun mengalami gangguan alam perasaan (affect/mood) ini, yang mencakup suatu saat yang bersangkutan dalam episode depresif dan pada saat yang lain mengalami episode hipomanik.
  4. Depresi Pasca NAZA, sebagaimana yang kita ketahui bahwa penyalahgunaan NAZA dapat mengakibatkan ketagihan dan ketergantungan. Apabila yang bersangkutan menghentikannya, maka ia akan jatuh kedalam kecemasan dan atau depresi. Oleh karena itu ia akan memakai NAZA, semakin lama semakin bertambah takarannya (dosis) dan semakin banyak frekuensi pemakaiannya.

Semoga bermanfaat yaaa.... ^,^b


Daftar Pustaka
Hawari, D. (2001). Manajemen stress, cemas, dan depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selasa, 10 November 2009

Pengaruh Situs Jejaring Sosial Terhadap Perilaku Penggunanya Berdasarkan Kelompok Usia
“Facebook Bagi Para Penggemarnya
(Remaja maupun Dewasa)”



Kemajuan zaman telah mulai berkembang pesat. Hal ini juga membuat pekerjaan manusia semakin mudah. Dahulu yang hanya menggunakan alat transportasi kuda ataupun berjalan yang membutuhkan waktu berhari-hari, kini dengan mudah dan cepat dapat menggunakan kendaraan, baik itu motor, mobil, kereta, kapal laut, bahkan pesawat sekalipun.

Masalah transportasi telah teratasi dengan mudah, yang menjadi topik hangat kali ini yaitu bagaimana mengatasi masalah komunikasi? Dahulu yang menggunakan merpati pos untuk mengirim berita atau pesan, atau pun menggunakan jasa seorang kurir yang kemudian pesan tersebut sampai pada si penerima. Tentu saja hal ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama pula, dan bagi si penerima tentunya akan sangat menanti dengan harap-harap cemas pesan tersebut.

Kini manusia pun berpikir lebih jauh lagi untuk mengatasi masalah komunikasi. Semakin pesatnya ilmu teknologi yang ada, pola pikir manusia pun berkembang dengan pesat. Alat komunikasi yang pertama kali dibuat yaitu Telepon oleh Alexander Graham Bell yang dipatenkan pada tahun 1800. Kini semakin berkembangnya zaman semakin banyak pula alat komunikasi canggih bermunculan, bahkan hanya dengan hitungan detik pesan tersebut dapat sampai pada si penerima.

Salah satu alat komunikasi yang banyak digandrungi sekarang ini misalnya situs jejaring sosial yang bernama Facebook. Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti .edu, .ac.uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.

Siapa yang tidak tahu Facebook? Dari mulai anak kecil-dewasa, tua-muda, pria-wanita, kalangan bawah-atas, pasti mengetahui situs yang sedang beken tersebut. Banyak fasilitas yang diberikan Facebook, dari mulai pencarian teman, games, membuat note sendiri, meng-up load dan menyimpan foto atau video, mengirim pesan lewat inbox, box komentar ataupun status yang dapat di up date setiap saat, dan yang tak kalah menarik adalah disediakannya layanan room chat bagi penggunanya. Hal inilah yang membuat nama Facebook melambung tinggi, dibandingkan dengan situs-situs jejaring sosial lainnya.

Para pengguna yang sering menggunakan situs ini mayoritas adalah orang dewasa, namun tidak sedikit para remaja pun menggunakan situs tersebut. Namun dibalik melambung tingginya nama Facebook, ternyata situs ini memiliki dampak bagi para penggunanya, di bawah ini akan diuraikan dampak positif dan negatif dari Facebook.

• Dampak positif:
1. Mempererat silaturahmi
Silaturahmi yang terjalin dengan baik dengan teman atau saudara, kini dapat lebih erat lagi dengan hadirnya Facebook.

2. Media komunikasi yang instan
Dengan disediakannya layanan room chat, pengguna dengan mudah berkomunikasi tanpa harus repot-repot mendatangi kediaman sang lawan bicara.

3. Berinteraksi dengan teman secara mudah
Tidak hanya di sekolah, kampus, atau tempat kerja untuk berinteraksi, di dunia maya seperti Facebook pun kita dapat berinteraksi dengan teman secara mudah, seperti mengirim informasi atau pesan hanya saja tidak face to face.

4. Media mencari teman
Keuntungan yang lain adalah kita dapat mencari teman, saudara, ataupun relasi yang lama tidak bertemu, bahkan kita juga dapat mencari idola kita untuk sekedar menjadi teman ataupun fansnya.

5. Sarana untuk berdiskusi
Banyak yang menggunakan Facebook untuk sarana berdiskusi, karena di dalam Facebook terdapat banyak group yang dapat kita pilih untuk sarana bertukar pikiran.

6. Media promosi
Disamping pengguna Fecebook yang berjuta-juta, media promosi ini merupakan sarana yang paling ampuh untuk mengiklankan suatu produk ataupun jasa.


• Dampak negatif:
1. Berkurangnya kegiatan sosialisasi antar manusia di kehidupan nyata
Penelitian yang dipublikasikan di Biologist, jurnal terbitan The Institute of Biology, Inggris, paparan dari Dr Aric Sigman memberikan gambaran bahwa kebiasaan bergaul via situs pertemanan tersebut berpotensi mengurangi kegiatan sosialisasi antar manusia di kehidupan nyata. Sigman yang sudah lama memperhatikan gejala sosial seperti ini sejak tahun 1987 menilai bahwa interaksi antar manusia secara face to face kian menurun dan pemahaman bahasa tubuh lawan bicara semakin tergerus.

2. Berpengaruh pada sisi biologis manusia
Beberapa diantaranya adalah mengubah alur kerja gen, menghambat respons sistem imun, tingkat hormon, dan fungsi arteri serta memengaruhi kondisi mental. Buntutnya, hal tersebut akan meningkatkan potensi resiko gangguan kesehatan seperti kanker, stroke, penyakit jantung dan dementia (kelainan jiwa).

3. Kaburnya identitas (Deindividuasi)
Selain itu pengguna facebook dapat terjadi keadaan deindividuasi dimana pengguna mengaburkan identitasnya dan mereka memungkinkan untuk bertindak kekerasan verbal (kata-kata), seperti menjelek-jelekan, mencemooh, mengolok-olok, berkata vulgar karena mereka berpikir bahwa mereka toh hanya kenal di dunia maya dan juga karena semua teman yang ada di list kita dapat memberikan komentar secara universal.

4. Info pertemanan kurang valid
Kepastian data yang kita peroleh dari info pertemanan kurang valid, yang mengakitbatkan kaburnya identitas individu tersebut.

5. Malas belajar/bekerja
Bagi para pelajar mungikin awalnya mereka mencari bahan tugas, namun disisi lain mereka pun membuka Facebook, lama kelamaan bahan yang dicari susah dan membosankan akhirnya pun mereka asyik dengan Fecebooknya.

6. Waktu terbuang sia-sia
Sebagai pengguna Facebook tentunya kita ingin selalu meng-up date status terkini, awalnya hanya meng-up date status namun lama-lama berubah dengan melihat-lihat teman, bermain game dan lain sebagainya. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk pekerjaan lain berubah untuk berfecebook ria.

7. Memicu pergaulan bebas tanpa batas
Dengan seringnya kita menggunakan Facebook tidak menutup kemungkinan untuk bergaul secara bebas di dunia maya tersebut. Mungkin bagi yang telah berumah tangga atau yang sedang menjalin hubungan, hal ini dapat terjadi perselingkuhan yang tidak diketahui salah satu pihak.

8. Menguras uang
Dengan seringnya membuka Facebook, tentunya kita juga dengan setia menjadi pelanggan warnet. Hal ini pun akan membuat keuangan kita terkuras habis. Apalagi jika kita membuka facebook lewat Handphone, ini akan membuat pembengkakan pulsa.


• Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat kita tarik kesimpulan jika situs jejaring sosial ini merupakan salah satu sarana untuk berkomukasi dan ajang pencarian teman yang cepat serta sarana bertukar pikiran. Namun perlu diperhatikan pula, bila kita sering menggunakan Facebook secara berlebihan, maka akan menimbulkan dampak yang sangat merugikan bagi si penggunanya, salah satunya adalah terciptanya budaya yang tidak memperhatikan etika, karena berkomunikasi dengan tidak dilakukannya face to face dengan orang lain akan merubah gaya seseorang dalam bertutur kata, maka nilai dan etika kesopanan dalam berkomunikasi akhirnya luntur dan tidak banyak lagi digunakan.

• DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (-). Facebook. Diakses 10 November 2009, dari google:http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook

Nasrulloh. (2009). Dampak facebook pada sisi biologis seseorang. Diakses 01 Nopember 2009, dari Google:http://www.blogcatalog.com/blog/nasrulloh/1dcd72c109fe7614320185b81b1032a1.

Aji, M. (2009). Dampak positif dan negatif facebook. Diakses 02 Nopember 2009, dari Google: http://mmadjie.blogspot.com/search/label/Good%20Things

Anonim. (-). Telepone. Diakses 02 Nopember 2009, dari Google:http://id.wikipedia.org/wiki/Telepon

Minggu, 11 Oktober 2009

Sekelumit Tentang Kupu-kupu




Di dunia ini begitu banyak ribuan jenis hewan, dari yang paling kecil (yang ga keliatan oleh mata telanjang) sampe yang paling besar, dari yang buas sampe yang jinak, dari yang liar sampe yang dipelihara, dari yang paling geli sampe yang paling serem. Wuuuuiiiiiih pokoknya banyak dech...

Berhubung hewan yang paling gw cintai n gw kagumi karena filosofi kehidupannya (menurut gw hehe..), gw akan membahas tentang hewan yang memiliki sayap terindah di dunia yaitu BUTTERFLY alias KUPU-KUPU...

Mungkin semua orang tahu kalau kupu-kupu ini adalah seekor hewan yang berasal dari ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Tentu saja tidak berubah begitu saja seperti superman, kupu-kupu memiliki tahap-tahap atau proses tersendiri dalam merubah wujudnya itu dan disebut juga dengan istilah METAMORFOSIS.

Wikipedia menjelaskan bahwa metamorfosis adalah suatu proses Biologi di mana hewan secara fisik mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas. Proses ini melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel. Perubahan ini bisa dibilang adalah tahap demi tahap yang harus dilalui sebelum seekor hewan mengalami bentuk yang sempurna. Metamorfosis ini hadir dalam 2 wujud, yakni:

1. Metamorfosis sempurna (holometabolisme), insekta ynag mengalami tahapan yang lebih panjang lagi sebelum menjadi hewan dewasa.
Contohnya: Kupu-kupu dan Katak

2. Metamorfosis tidak sempurna (hemimetabolisme), insekta yang mengalami metamorfosis tidak sempurna, mereka menjadi hewan dewasa setelah berubah dari bentuk nimfa. Perkembangan larva berlangsung pada fase pertumbuhan berulang dan ekdisis (pergantian kulit).
Contohnya: Capung, Jangkrik, Belalang

· Telur
Hewan yang mengalami metamorfosis sempurna seperti kupu-kupu, memulai hidupnya dengan telur yang menempel di dedauanan yang merupakan kehidupan awal sang kupu-kupu.

· Ulat
Saat telur-telur tersebut menetas, keluarlah bayi-bayi ulat (mungkn bagi sebagian orang takut atau geli bila melihat ulat, atau bahkan merinding hanya dengan menyebutkan atau mendengar namanya saja). Sang ulat hidup dengan memakan daun-daun yang mereka temui, ulat dapat dikatakan rakus saat memakan dedaunan itu dikarenakan perkembangan ulat yang cepat. Sebagai seekor ‘ulat kecil’, apabila makin besar usaha dalam mencari bekal makanan, kemungkinan untuk dapat menjadi kepompong akan semakin besar pula

· Kepompong
Seekor ulat agar dapat menjadi kupu-kupu yang indah, maka diperlukan proses yang cukup lama, yaitu pada saat menjadi kepompong Apabila kepompong tidak bergantung kuat pada sesuatu, maka ia akan jatuh dan gagal menjadi seekor kupu-kupu. Kepompong dalam bahasa ilmiah, kita menyebutnya pupa atau chrysalis. Di dalam pupa, cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva.

· Kupu-kupu
Setelah tujuh hari, dari kepompong tersebut akan keluarlah seekor kupu-kupu yang masih muda. Tidak berapa lama kemudian menjadi kupu-kupu dewasa yang cantik dengan sayap yang indah..

Tapi ga semudah itu untuk berubah menjadi seekor kupu-kupu...butuh proses yang sangaaaaaaat panjang seperti halnya manusia. Seekor ulat yang kecil bertahan hidup dari ancaman makhluk hidup lainnya, lalu melanjutkan perjuangan hidupnya yaitu menjadi kepompong yang tidak ada seorangpun menjaga,,berdiam diri tanpa peduli panas dan hujan, bila kepompong bergantung kuat pada sesuatu pastilah kupu-kupu indah dengan anggunnya keluar dan menampakkan sayap dengan sejuta pesona....

Semoga kita dapat belajar dari perjalan hidup sang kupu-kupu, jangan sampaii kita menyakiti hewan ini dengan menangkapnya (dengan tujuan tidak jelas!!!) itu berarti dia adalah seorang yang tidak menghargai pentingnya makna hidup..

Jumat, 02 Oktober 2009

Pengaruh Internet Bagi Gaya Hidup Manusia di Kota Besar


Perkembangan era globalisasi sekarang ini semakin pesat berkembang. Tak ayal lagi jika teknologi memegang peranan yang sangat besar bagi kemajuan zaman. Teknologi memang mempermudah manusia untuk malakukan segala hal, dari yang simple sampai yang susah sekalipun.

Internet merupakan salah satu hasil dari kemajuan tekhnologi sekarang ini, yang tentu saja memberikan begitu banyak manfaat dan kerugian. internet dapat diakses melalui Hand phone (HP) ataupun komputer. Untuk gaya hidup di kota-kota besar yang notabene penuh dengan segudang pekerjaan dan aktivitas, mungkin internet sangat dibutuhkan baik untuk berbisnis , komunikasi, ataupun sekedar mengetahui informasi terkini dari seluruh dunia dengan mengakses berbagai situs dan layanan lainnya yang mempermudah urusan kita.

Contohnya saja facebook, salah satu jejaring sosial pertemanan yang sedang booming sekarang ini yang dilahirkan melalui media internet. Tentu saja masyarakat kota khususnya, yang tidak sempat keluar rumah untuk berkunjung karena begitu banyaknya pekerjaan yang harus dikerjan, situs ini memberikan layanan room chat bagi para penggunanya, sehingga kita dapat langsung melakukan kontak walau tanpa harus melakukan hubungan kontak fisik. Tidak hanya facebook, tetepi jaringan-jaringan serupa pun telah bertebaran di internet, hanya sekedar untuk mengetahui kabar kerabat, teman, ataupun rekan bisnis.

Menurut Yasraf Amir Piliang (seorang penulis buku Realitas dan Kebudayaan dalam Era Postmetafisika) bahwa era atau peradaban dunia saat ini sebagai era cyberspace, di mana media memiliki kekuatan maha dahsyat untuk mengetahui dan memaparkan ke publik, segala fenomena yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Melalui media kita bisa membaca, mengetahui, dan memahami segala bentuk dan model fenomena tanpa harus melakukan kontak fisik secara langsung. Tuntutan sosiologi dan ekonomi massa menjadikan tampilan realitas dalam Media bukan dalam bentuknya sebagai sebuah realitas sebenarnya (as it), melainkan menjadi sebuah realitas yang tidak sebenarnya (as do it). Realitas yang ditampilkan media adalah realitas yang cenderung eksis sebagai sebuah citra (as images). Penghilangan sekat demarkasi realitas oleh media ini mengakibatkan massa menemukan kesulitan untuk membedakan antara sebuah realitas sebenarnya (as it) dengan realitas tidak sebenarnya/rekayasa (as do it).

Internet memang merupakan salah satu media komunikasi yang modern, namun ini membuat manusia menjadi enggan berhubungan dengan orang lain dan mengacuhkan dunia luar (realita), mereka membuat internet menjadi salah satu alternativ untuk saling berkomunikasi dan interaksi tatap muka pun cenderung menghilang dari waktu ke waktu (dehumanisasi).

Apakah kita juga sama seperti itu?