Lama ga bikin hasta karya setelah nikah hehee
Iseng aja liat tali genteng banyak yang ngegeletak di tanah, dan tiba-tiba triiiing! Munculah ide, kenapa ga dibikin hiasan dinding aja? Sayangkan kalo dibuang,,hehe
Sebernya bisa dibuat dari bahan apa aja c, cumaaa kebeneran aja ini ada bahan nganggur jadi kenapa ga kita manfaatin aja..ya kan?
Penasaran gimana bikinnya? Yuk cekidot.. :D
Naah ini dia bahan yang akan dieksekusi hehe IKATAN GENTENG
Cuci bersih tali yang berbahan keras tersebut sampai bersih
Lalu gunting menjadi 15 cm
Buat bulatan dengan menggunakan hecter
Tekan dikedua sisi bulatan hingga membentuk kelopak bunga
Buatlah sebanyak mungkin
Untuk merekatkan antara kelopak bunga, saya menggunakan lem lilin, maklum masih manual (belom beli tembakannya haha)
Naah maka terbentuklah bunga seperti ini
Rangkailah bunga tersebut sehingga membentuk barisan bunga yang cantik :)
disini saya beri warna pink dengan menggunakan Pyllox, lalu tunggu hingga kering
Tambahkan kancing seolah-olah putik bunga, kemudian rekatkan di tengah-tengah bunga
Dalam setiap hela nafas Ku rasakan hembusan kasihmu Dalam setiap denyut nadi Ku rasakan detak cintamu Dalam setiap aliran darah Ku rasakan desir jiwamu Dalam setiap tatapan Ku rasakan kelembutanmu Dalam setip senyuman Ku rasakan ketulusanmu Dalam setiap ucapan Ku rasakan kejujuranmu Dalam setiap tawa Ku rasakan kebahagiaan bersamamu
Aku serahkan seluruh jiwa dan ragaku Ikhlas...untukmu
Jangan jadikan Aku Istrimu,
Jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain, kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas,wajah mantan pacarku yang terlihat begitu sempurnapun takkan mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
Jangan Jadikan Aku istrimu,
Jika nanti kamu enggan bangun hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam, sedang selama 9 bulan aku harus membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak bisa tidur sesukaku. Jangan Jadikan Aku Istrimu, .... Jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka maupun sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita.kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa di ajak bercerita sebagai seorang sahabat. Jangan Jadikan Aku Istrimu, ... Jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menceraikan diriku, kamu tahu betul kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen kita untuk hidup bersama. Jangan Jadikan Aku Istrimu, ... Jika nanti kamu memilih tamparan dan kata-kata kasar untuk memperingatkan kesalahanku, sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa. Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu, .. Jika nanti kamu lebih sering berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku. Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup hari ini saja. Jangan Buru-buru Menjadikan Aku Istrimu, Jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah. Menikah bukan untuk menghapuskan identitas kita sebagai individu tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban. Jangan Buru-buru Menikahiku, . Jika saat ini kamu masih ingin meraih impian mimpi mudamu, aku hanya akan menjadi penghalang untuk langkahmu itu,meski menikah denganmu adalah impian terbesarku, aku tidak akan keberatan menunda itu demi cita-citamu karena aku juga punya cita-cita dan aku tahu bagaimana rasanya jika berhasil meraihnya. Jangan Buru-buru Menikahiku, .. Jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku. Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku yang tidak ingin ku sesali hanya karena terburu-buru. Hapus Aku Dari Daftar Calon Istrimu, .. Jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah ku perjuangkan, aku takkan ragu untuk meninggalkanmu. Jangan Jadikan Aku Istrimu, ... Jika kamu masih berpikir kamulah cinta pertamaku sedang setiap hari aku masih harus mendengar nama-nama mantanmu dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa cemburu yang mungkin tidak beralasan tapi kamu harus yakin, kamulah cinta terakhir dan satu-satunya cinta yang ingin ku jalani sampai akhir hayatku... Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu, ... Jika kamu pikir bisa menduakan cinta, kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang ku pilih mengkhianatiku. Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu, .... Jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan, jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku..
Ada banyak bakat yang dimiliki setiap individu, satu dengan lainnya memiliki kelebihan masing-masing. Jika bakat yang dimiliki terus diasah tentu akan menghasilkan suatu karya masterpiece. Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu
dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan
dan keterampilan khusus.
Ini ngga jauh berbeda dengan para ponakan-ponakan gw, yang memiliki bakat yang luar biasa, sampai gw pun hanya bisa bedecak kagum dengan karya yang mereka hasilkan. Bayangkan saja, di usia yang masih sangat muda-sekitar usia 3-4 tahun-ponakan gw udah memamerkan hasil karyanya.
Baiklah gw ga mau berpanjang lebar ngomongin ponakan-ponakan gw yang super imut bin luchu ini, biar gambar yang berbicara.
Gambar 1. "Benang hampir ga kusut" by Ringga Ringgu
Gambar 2. "Abstrak-bermain dengan komposisi warna" by Sabina
Gambar 3. "Menemukan Ujung" by Sabina
Gambar 4. "Tiga sekawan dari dasar laut" by Sabina
Pelukis kita: Sabina (yang lucu itu tu..)
Biang rusuh: Ringga Ringgu
Mungkin para pembaca akan sedikit terheran-heran, ko malah gambar yang ga jelas ini yang ditampilin. Nah, inilah sodara-sodaraku sekalian!! Berawal dari hal keci inilah, sesuatu yang besar bisa terjadi. Terbukti bahwa pelukis tembok kita Sabina, telah memenangkan juara 1 lomba mewarnai yang diadakan oleh Dept. Store di Cirebon, kalo ga salah di Yogya Mall & Grage Mall, yup..di dua tempat dan waktu yang berbeda tentunya (tapi bukti otentik fotonya gw lupa minta ma ibunya, maklum pelupa akut hehee).
Nah..kalo pelukis tembok yang satunya, Ringga Ringgu, sebenernya banyak banget tembok dalem rumah yang udah dia jelajahi buat digambar, tapi sayangnya tembok dalem rumah udah di cat ulang biar rada bersihan dikit dari hasil karya sang Maestro. Emak gw cuma ngelus dada aja waktu liat cucunya mengukir karya lagi di tembok yang ga lama barusan aja di cat..dan gw cuma bisa ketawa girang heheheee.... ;D
Tapi gw yakin...suatu saat nanti dari tangan-tangan mungil mereka, akan menciptakan suatu karya yang masterpiece..
Hari ini aku bersiap-siap untuk memenuhi janji dengannya. Tujuan kami adalah berkunjung menemui "Mimi"—panggilan akang untuk ibunya—di Kuningan, tepatnya d Kutaraja, Maleber.
Aku pun berangkat menggunkan bis. Sudah lama sekali aku tidak menaiki bis menuju luar kota Cirebon. Rasanya perutku tergelitik, mengenang kembali memori dulu, dimana waktu aku masih SD ketika liburan datang, kemana-mana harus menggunakan bis.
Akhirnya aku sampai di Kuningan, Pertanian, aku menunggu di situ karena dia yang menyarankan. Dia berangkat dari Banjar, sedangkan aku dari Cirebon, dan untuk menghemat waktu kami bertemu di Kuningan, Pertanian, dan juga agar dia tidak perlu menjemputku di rumah. Namun ternyata dia masih dalam perjalanan menuju Kuningan. Aku duduk menunggunya datang, sambil menyapu pemandangan sekitar—indah,batinku—kendaraan yang berlalu-lalang, udara yang sejuk, melihat para pelajar SMU yang telah kelar belajar seharian, petani yang bercocok tanam, anak kecil yang bermain di sawah, angin yang memainkan rok dan jilbabku, dan pesan-pesan singkat yang dia kirimkan padaku untuk bersabar menunggunya.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dia tiba juga. Aku berdiri menghampirinya lalu mencium tangannya. Dia meminta maaf padaku karena lama menunggunya dan aku menjawab dengan seyum simpulku, karena tak kurasa bosan menunggunya berlama-lama, sebab banyak hal yang membuatku tak jenuh untuk menunggu. Lalu kami pun menghampiri angkot 01 yang menuju rumah Mimi. Namun ternyata untuk menuju rumah Mimi, kami harus menaiki tiga angkot—tak masalah pikirku—yang berbeda jurusan.
Setelah sampai Pasar Baru kami pun berpindah angkot. Angkot yang kami tumpangi kali ini adalah angkot 07. Tapi sebelumnya kami berkeliling untuk membeli buah tangan untuk Mimi dan keluarga di rumah, dia menjatuhkan pilihan pada buah durian. Akhirnya kami berkeliling mencari buah durian, kesana-kemari, berputar-puar mencari, namun ternyata yang menjual buah durian hanya satu kios. Hmm...ragu untuk membeli, karena buahnya berukuran sedang, tidak besar, tapi karena dia tetap membeli durian itu.
Setelah memberikan uang kepada si penjual durian kami pun naik angkot kembali. Trayek angkot 07 melewati Kuningan kota, namun setelah itu masuk ke perkampungan warga, lalu melewati sawah-sawah yang membentang luas di kanan-kirinya, dan sampailah kami di terminal kecil itu. Terminal kecil yang berisikan beberapa angkot yang berbeda jurusan dan berbeda warna. Sepi. Hanya beberapa angkot yang sedang menunggu penunmpang, bila angkot sudah terisi penuh oleh penumpang, barulah angkotpun melaju. Ya, itupun terjadi pada angkot yang kami tumpangi kali ini. Angkot terakhir membawa kami berwarna hijau terang dengan list merah di tengahnya.
Kembali pemandangan yang tersaji di luar sana adalah hamparan sawah hijau yang luas dan angin yang bermain dengan dedaunan padi seolah sudah menjadi sahabat setia yang tak terpisahkan. Diselingi candaannya padaku, dan celoteh para penumpang yang begitu akrab satu sama lain—padahal mereka tak kenal satu dengan yang lainnya—ini yang membuatku senang, sikap mereka sangat ramah dan hangat yang membuat perjalanan ini sangat menyengkan, jauh berbeda dengan suasana kota yang sangat acuh. Dan benar perjalanan jauh pun, berubah menjadi singkat.
Di sebrang mesjid At-Taqwa itu kami turun, dan kulihat plang yang bertuliskan "Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Jauhar". Wah..!! sudah sampai. berjalan melewati beberapa rumah penduduk, akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
Sebelum bertemu Mimi, kami singgah di rumah kerabat akang terlebih dahulu. Akupun memperkenalkan diri dan mereka dengan hangat menyambutku. Tak lama setelah itu, kami pun bertemu Mimi. Kata-kata yang pertama keluar dari Mimi adalah "Alit keneh wae-nya neng melan mah..", dengan tawa renyahnya.
Mimi yang ku ingat dulu adalah wanita yang berperawakan sedang, kurus, dan berkaca mata min tebal. Tapi kini, beliau cukup gemuk, namun kaca mata min tebal itu sudah di musiumkan dan berganti kaca mata yang lebih simple, namun tetap menjaga pandangan matanya. Banyak cerita yang keluar dari kami, tentang aku, tentang dia, tentang keluargaku dan keluarganya. Bahkan aku tak canggung memanggilnya dengan sebutan "Mimi".
Haripun telah senja. Tak terasa kami mengobrol begitu lama. Ketika aku hendak pamit pulang. Mimi melarangku pergi. Karena beliau takut terjadi apa-apa denganku, apalagi kini marak pemerkosaan di dalam angkot.
"Tos nginep wae di dieu,melang mimi mah...kasih tau ke mamahnya melan, melan nginep di sini..", ucapnya padaku.
Tapi sungguh, aku tak enak hati untukku bermalam di rumah Mimi. Namun ketika Mimi meyakinkan lagi, tentang sulitnya kendaraan untuk pulang ke kota sudah jarang bahkan tidak ada. Akupun manut dibuatnya, dan Mamahku memberi izin untukku menginap di sana, yah walau pun ku tahu pasti hatinya gelisah dan Mamah berpesan "Hati-hati ya...di rumah orang, jaga sikapnya." *emang sikapku gimana mah?hehe :p
Ketika waktu menunjukkan pukul 22.26, aku lupa belum shalat isya, dan akupun keluar untuk mengambil air wudhu. ketika ku buka pintu kamar, aku dapati dia tengah tertidur pulas di ruang TV, kutatap wajahnya dalam-dalam, hmm...lelaki ini yang memantapkan hatinya padaku.
Esoknya pagi-pagi sekali, setelah berkeliling bertemu sanak saudaranya dan berziarah ke makam kakek-nenek serta sesepuhnya. Kami pun pulang dan wanita sederhana yang dia panggil "Mimi" berseru padaku dari kejauhan "Melaann....!!! Ameng deui nyaaaaaa!!!" dengan melambaikan tangannya padaku.
Aku pun sontak berteriak "Uhunn Miiiii.........!!" dengan senyum lebarku. :)
Seperti air yang dipanaskan lalu bergejolak, setelah itu menguap begitu saja…
Terdiam sejenak ketika kemudian …
Berikan kesempatan Ta’aruf, bukan dalam artian, disengaja tidak menghasilakn output yang kita harapkan. Niatkan ikhlas silaturahmi
Aku lelah untuk terus mengejar cinta…
Namun cinta yang satu ini adalah untuk mendapatkan ridha Allah
Ketika ada seorang lelaki yang memantapkan hati pada wanita yang dicintainya
Wanita mana yang tak menyunggingkan senyum termanis di bibirnya?
Pun sang wanita tak ragu untuk memantapkan hati padanya
…bismillahirrahmanirrahim..
Jika memang ini adalah jawaban atas tiap bulir air mata di malam-malamku
Maka aku akan menjalaninya dengan ikhlas ya Rabb
Tujuan kami sama…
Tak ingin mengulang kesalahan di masa lalu
-----------
dan ini berawal dari..
“Assalamu’alaikum..
Aguuuuuusss…
Inget teu k melan?? ;D ”
20:50:31
03122011
Selasa, 29 November 2011
Kangen jalanan ini....
naik becak...terus kelopak bunganya berguguran kaya salju...
pengen pulang......
Senin, 28 November 2011
Depok
27 November 2011
20.43 WIB
Mengikuti kata hati adalah yang terbaik…
Ketika segalanya naik kepermukaan, disitulah kita mulai di uji, apakah akan tetap tinggal atau melangkah pergi...
Hmmm dan aku?
Aku menatap jauh ke depan
Pun tak menghakimi masa lalu
Namun, datanglah padaku saat kau tak temukan arah....
Layaknya lembayung yang setia pada senja
Aku ada untukmu...
Selasa, 01 November 2011
Depok Baru, 1 November 2011
12.18 WIB
Udah masuk stasiun UI....masih banyak stasiun kecil lagi yang harus ku lewati bersama commuter line ini. Suasana kereta tidak begitu padat. Alhamdulillah masih bisa dapat tempat duduk, walau sempat berdiri sebentar. Kuambil ponselku dan langsung ku putar lagu yang ada di playlist...hmm ternyata lagu dari miliknya Ricard Clayderman "Love Story"...semakin menambah semarak kegalauan hati...
Menuju Gambir rasanya ada sesuatu yang tertinggal entah dimana.
Jakarta Pusat (Gambir)
12.55 WIB
Sampai di stasiun Gambir, sepertinya banyak yang mudik...sama seperti aku. Penuh. Tak menunggu lama, keretaku datang menuju rumah tercinta. Hmm...kereta 3, 1A, bisnis-biasa merakyat. Aku duduk disamping jendela-yang buram. Tak lama setelah aku duduk, seorang wanita paruh baya menghampiriku, bertanya dimana gerbong 2. Dan usut punya usut ternyata tempat yang aku duduki sekarang ini adalah gerbong 2. Sungguh memalukan, setiap waktu naik kereta Cirebon Express masa aku masih salah naik juga??? -Ngalamun waè tuda si melan mah! Hahaha ;D
Akhrinya kususuri lorong gerbong yang sempit itu menuju gerbong 3. Sampailah aku di tempat yang seharusnya aku tempati. Kali ini aku duduk di samping jalan dimana orang hilir mudik, karena tempat duduk di sampingku yang dekat jendela sudah terisi penumpang lain. Lelaki, seusiaku-dilihat dari perawakan dan air mukanya-mengenakan topi berwarna biru. Ternyata dia ke Jakarta dalam rangka "main". Tak banyak yang kami biacarakan hanya sekedar menanyakan tujuan kami sesampainya di Cirebon.
Gambir
13.30 WIB
Keretaku melaju.....anggun. Ini yang aku rindu-bunyi roda kereta berputar ketika bergesekan dengan rel kereta, menimbulkan suara yang khas.
Cuaca di luar cerah...secerah hatiku menyongsong mereka yang ku cinta di rumah. Tak sabar untuk segera di pelukanmu, mah... (˘⌣˘)ε˘`)
Cikampek
14.38 WIB
Orang disampingku benar-benar pulas tertidur. Hampir saja terjatuh di bahuku....selagi aku menghindar, untungnya dia cepat tersadar dari tidur panjangnya. Ckckck....mungkin merasa malu-atau entah apa, dia langsung ke kamar kecil.
Aku sungguh menikmati perjalanan ini. Memandang jauh ke luar sana lewat kaca jendela-kali ini kaca jendela yang retak-permadani hijau terbentang luas...diselingi rumah-rumah yang jaraknya berjauhan...lalu kembali hamparan terbentang dengan kambing-kambing yang digembalakan oleh seorang lelaki tua dan sesekali melewati sungai berwarna keruh dengan para bocah yang tanpa beban dan tawa riangnya bermain air. Ku pandang lagi, kini pemandangan yang tersaji adalah hamparan sawah yang gersang dan tanah yang kering kerontang sampai terlihat retakkannya-entah kapan terakhir kali hujan turun di daerah ini. Kontras dengan apa yang kulihat sebelumnya.
Meskipun begitu, tak kualihkan pandangannku dari kaca jendela yang retak ini...
*tadi mamah telepon, "udah nyampe mana?"
Antah Berantah (ga tau di mana)
15.10 WIB
Sungguh perjalanan ini mengasyikan...
Menyapu seluruh pemandangan di luar sana dan entah di mana sekarang aku berada.
Arjawinangun
16.10 WIB
Ku layangkan pandangku ke luar jendela, hari telah senja. Indah kulihat sore ini...bahwasannya untuk beberapa hari kedepan aku dalam dekapan keluargaku di sana.
Masih...yang tersaji di luar sana hamparan gersang, hmmm...mungkin penanaman bibit baru, akan telat dari yang telah direncanakan...
*Yess bentar lagi nyampee Cerbooon..
Stasiun Besar Cirebon
16.30 WIB
Wah!! Kaget aku!!
Banyak sekali yang berubah dari stasiunku ini...Lebih bagus!
Tapi mengapa aku merindukan suasana stasiun yang lama ya?
Mmm...kesannya lebih klasik saja.
Kini, telah di bangun lorong bawah tanah. Sama seperti stasiun Depok Baru, bedanya kalau di stasiun Cirebon lebih bersih-karena bangunan baru-kalau Stasiun Depok lama, sudah penuh sesak, kotor, banyak pedagang kaki lima, beragam manusia pun ada di sana.
Kutunggu kakak sepupuku yang akan menjeputku di stasiun ini. Sekitar menunggu 10 menit, datanglah dia dengan motornya. Menyusuri jalan raya di kotaku tak ada yang berubah secara signifikan. Hanya beberapa bangunan baru atau tempat yang dulunya pernah ku kenal, kini beralih fungsi menjadi tempat lain.
Drajat
16.48 WIB
Motor diparkir di depan rumah. Terlihat dari kaca jendela ruang tamu, papah dan mamah-tumben beliau berdua duduk bersanding. Aaaaah dan ternyata kaki papahku sedang dipijit-pijit oleh mamah. Aku masuk ke rumah, mengucapkan salam, dan menciumi tangan kedua orang tuaku itu.
Bersyukur ya Allah masih dapat mencium tangan kedua orangtuaku.
-Kini aku berusaha untuk melupakan apa yang telah papah lakukan terhadapku dan keluargaku...sungguh...Aku takut kehilangan keduanya (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
Sabtu, 29 Oktober 2011
Depok, 29 Oktober 2011
17.40 WIB
Lagi suka banget lagunya "Someone Like You"-Adele
Hmm...pas banget kayaknya.. Hehehe *tertawa getir
Yang belom punya ayo ayo download lagunyaaah
...
"Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you, too
Don't forget me, I begged, I remember you said
Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead"
Mungkin ini akan terdengar sedikit gila untukmu, wahai kekasih hatiku dimanapun engkau berada
Tapi tunggu dulu,,!
Sebelum aku mengungkapkan isi hatiku ada baiknya engkau menghilangkan prasangka yang mengganjal di hati tentangku
--sudah??--
Kalau masih belum bisa, tolong benar-benar bersihkan dahulu jiwamu itu tentang hal yang tak berkenan tentangku, lihat aku dari sisi yang lain...
--sungguh?sudahkah?--
Baiklah...mari kita mulai saja ya sayang...
Kekasihku...
Tahukah engkau, jika aku sebenarnya menunggumu sejak lama...
Namun engkau tak kunjung datang jua
Bahkan aku tak tahu engkau di belahan bumi mana
Bagaimana rupamu
Bagaimana sikapmu
Bagaimana pribadimu
Berjuta pertanyaan ada di benakku tentangmu...
Mungkin Allah belum mempertemukan jalanmu padaku...
Kekasih hatiku siapapun engkau...
Beribu tetesan hujan yang jatuh ke bumi tak 'kan tergantikan dengan tetesan air mata disetiap malam-malamku untuk memohon padaNya
Agar jika engkau datang kepadaku, engkau diberi kesehatan untuk tetap menjaga hatiku yang rentan sekali rapuh
Diberi kemudahan untuk melangkahkan kaki menuju jiwaku yang kelam dan berharap engkau akan membawa pelita bagi ruang jiwaku
Diberi rizqi lahir batin yang melimpah untuk membahagiakanku yang dengan senyum tulusmu akan mengantarkan kita pada gerbang kebahagiaan
Diberi umur yang cukup untuk selalu setia menemani hari-hariku yang kosong, dengan hadirnya engkau hariku mungkin penuh dengan makna
Diberi kesabaran untuk menghadapiku ketika aku khilaf nanti dan berharap engkau meredakanku layaknya hujan di padang gersang...
Duhai kekasihku yang masih dirahasiakanNya...
Dunia ini memang begitu luas
Namun cintaku padamu melebihi luasnya dunia ini
Meski rupamu belum aku ketahui
Namun yakinlah cinta tulusku hanya untukmu
Inilah ungkapan hatiku padamu
Meski kau tak tahu siapa aku
Namun aku yakini Allah akan mencintaimu dan menjagamu untukku
Wahai kekasihku yang akan menjadi imamku kelak...
Penantian ini terasa begitu panjang untukku..
Sempat terpikir untuk tak menginginkan adanya ikatan hati suatu hari nanti denganmu
Namun aku hanyalah insan yang menginginkan keridhoanNya dengan menjalankan sunnah RassulNya
Dan kembali mengingat ayatNya
"Bahwa setiap manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan"
Lalu aku yakini itu sayang...
Bahwa suatu hari nanti engkau akan datang kepadaku
Dengan membawa hati dan cintamu yang tak terbendung untukku
Allah mungkin sedang menguji kita sayang...
Sampai mana batas kesabaran kita
Namun cintaku...
Jika memang Dia belum mempercayakan kepadaku seorang "engkau"
Maka aku akan bersabar menantimu...
Walau harus beribu malam kulalui dengan linangan air mataku
Jika memang linanganku adalah yang terbaik untukNya...
Aku ikhlas....
Wahai belahan jiwaku...
Jika memang namamu yang tertulis di Lauful Mahfuz
Allah pasti pertemukan kita
...cepat atau lambat
Dan aku tak 'kan lelah menanti...
Sabtu, 22 Oktober 2011
Depok, 22 Oktober 2011
10.00 WIB
Kamrin sore Depok di guyur hujan...hujan yang sangat lebat...bahkan disertai angin kencang dan petir. Sempat terpikir olehku "di rumah banjir ga ya?"....tapi sepertinya para tukang pembuat gorong-gorong--yang memperbaiki saluran mampet--sudah bekerja semaksimal mungkin...hmm mungkin ga akan banjir lagi..
Tapi tetap saja rasa khawatir itu muncul. Karena tak ayal lagi, aku harus menguras rumah yang lumayan "menguras" seluruh tenagaku.
Mmmmh...mari kita kesampingkan kekhawatiranku sebentar ya--lagian juga sudah teratasi oleh para tukang,,hehe.
Bicara tentang hujan...hujan adalah sesuatu yang begitu indah--menurutku--kenapa?karena dia menyirami daerah gersang yang tak tersentuh air setetes pun, membuat kuntum bunga bermekaran, mewangikan tanah, rumput, pohon, bunga, yang memiliki bau yang sangat khas--membumi sekali, aku sangat suka bagian ini--, menghilangkan peluh yang sarat akan tuntutan, melihat para bocah berlarian kesana-kemari di bawah guyuranmu, menimba rezeki dengan payung digenggaman yang bergetar karena dingin menusuk tulang, melelapkan mata yang terhipnotis akan merdunya nyanyianmu, menghilangkan rasa rindu yang membelunggu jiwa, merecall kenangan yang tersimpan rapi di sudut hati, menitikan air mata di saat tak ada bahu untuk bersandar, disamping semua itu yang paling membuatku menanti datangnya hujan adalah berdoa ketika hujan turun karena Dia membawa rahmatNya ke bumi. Dan itu adalah salah satu do'a mustajab yang insya allah, Allah akan kabulkan. Subhanallah......
Ada hal lain lagi yang membuatku begitu rindu akan datangnya hujan....hmmm...menilik jauuuuh kebelakang, walaupun hanya terjadi beberapa menit saja...tapi begitu membekas hingga sekarang. Yaaaah,,seperti yang kubilang tadi "merecall kenangan yang tersimpan rapi di sudut hati dan nyayian rindu itu selalu abadi".
Bagaimana pun yang namanya kenangan itu selalu akan tersusun rapi di rak hati ini. Sepahit apapun kenangan itu dan tentunya dengan melupakan rasa sakit diwaktu lalu, namun peristiwanya tak 'kan dapat kita lupa bukan? ;)
Aaah sudah sudah...yang pasti aku selalu bahagia disaat hujan turun... Karena akan selalu terucap do'a yang kupanjatkan untuk orang-orang yang kusayang (‾ʃƪ‾)
Allahumma shoyyiban naafi'aa....
Senin, 17 Oktober 2011
Depok, 17 Oktber 2011
00.03 WIB
Mencoba berdamai dengan hati
Tak sepantasnya aku menghujatMu Tuhan
Apalah aku ini
Aku hanya insan yang menikmati salah satu rasa ciptaanMu
Ya, Tuhan..benar,"cinta"
Cinta yang dapat membolak-balikan hati
Hingga mampu menutupi akal sehat...
Ketika kening lebih rendah dari tumit
Aku memohon ampun padaMu
Bersujud di setiap malam-malamMu
Atas rasa cinta yang ku miliki
Ampun atas keegoanku
Ampun atas kenaifanku
Ampun atas kesombonganku
Ampun atas kelalaianku
Ampun atas segala tingkah dan laku yang ku perbuat
Yaa Qoyyuum...
Hamba hanyalah insan yang juga ingin mendapatkan rasa bahagia
Walau hanya secuil...
Ingin pula dicintai dengan cara yang baik
Tanpa ada hati yang tersakiti
Seperti halnya gemintang yang selalu setia pada rembulan Tuhan..
Yaa Latif...
Pertemukan hamba dengan belahan jiwa hamba
Mudahkan jalannya menuju hamba
Dan mudahkan jalan hamba menujunya
Agar kami dapat menikmati agungnya rasa ciptaanMu
Karena pada akhirnya
Semua insan ingin mendapatkan akhir cerita yang bahagia
Tak terkecuali Tuhan,
Akupun sama....
“Bagian terpenting dalam hidup adalah dimana kita dapat menghargai diri sendiri dan orang lain”
“Untuk siapa Aku hidup?”, mungkin pertanyaan seperti itu yang mengganjal fikiran setiap orang. Mereka lahir ke dunia dalam keadaan polos seperti kertas putih tanpa noda.
Adakah yang berfikir, bahwa kau hidup untuk seorang sahabat??
Dimana seorang sahabat selalu menemanimu saat senang maupun duka, dan kau merasa berhutang budi padanya?
Atau mungkin hidup untuk seorang pacarmu??
Yang menerutmu akan selalu setia menemanimu, karena cintanya yang tak bisa disimpan dalam suatu bejana besar sekalipun, dan kau merasa kasihan padanya, karena setiap kali kau berkencan, dia yang selalu mentraktirmu atau membayarmu nonton. Naif sekali pikiranmu.
Atau hanya untuk bersenang-senang??
Karena tanpa itu kau merasa hampa dan tidak memiliki teman, atau mungkin kau berfikir bahwa hal ini memang sangat kau butuhkan untuk mengusir penat yang menumpuk di otakmu.
Hal lainnya mungkin karena ibumu??
Seorang wanita perkasa yang telah melahirkannmu, berkat beliaulah kau hadir di dunia yang…yaaaah.....(terserah kau mempersepsikan seperti apa dunia ini), namun karena kau sayang, cinta dan ingin terus bersamanya (jika itupun bisa), sebab itulah kau hidup.
Mungkin juga kau hidup untuk seorang ayah??
Seorang pria yang menyuruhmu untuk terus belajar sampai kau lulus sebagai sarjana dan itu tidak memerlukan biaya yang sedikit, tanpa bantuannya kau tak mendapat gelar sarjana. Namun pernahkah kau berpikir jika ayahmu pun dapat membuat hidupmu masuk pada dunia yang seharusnya tak kau injak? Karena dia berpikir, dia berkuasa untuk menjadi seorang ayah.
Hal lainnya kau hidup karena kau ada??
Hmmmmm....dengan adanya dirimu di dunia ini, kau dapat (seharusnya) menghargai semua yang kau miliki dan kau juga akan mendapatkan semua hal di atas, jika hidup dimulai dari dirimu sendiri, jika kau telah dapat menghargai dirimu sendiri tentunya kau pun dapat menghargai orang lain. Karena hidup mengajarkan kita tentang banyak hal, dari mulai keluarga, sahabat, cinta, kasih sayang, kebahagiaan, kesedihan, kecemburuan, kehampaan, dan hal-hal lainnya yang akan membuat hidupmu menjadi lebih berwarna.
Pernahkah kau berpikir untuk hidup di suatu tempat, dimana tempat itu hanya terdapat kebahagiaan dan kebebasan? Bayangkan kau berlari di padang rumput yang saaaaangaaat luas ditemani kupu-kupu yang beterbangan kian kemari, saat itulah kau merasa bebas dan rasakan dirimu seringan kapas putih.
Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi kita telah membuat suatu kesapakatan dengan Sang Maha Pencipta bahwa kita adalah salah satu yang dipilih-Nya untuk mendapatkan kesempatan hidup di dunia. Maka gunakanlah kesempatan hidup itu dengan sebaik-baiknya.
Jika aku gambarkan hidup itu seperti apa, aku akan mengatakan jika hidup itu adalah seperti bola basket, karena tak mudah memasukan bola basket ke dalam ring, karena kita harus tahu cara dan teknik-tekniknya agar bola itu masuk dengan sempurna...yaaah begitupun dengan HIDUP. (mell)