Senin, 17 Oktober 2011

Menapakimu......Lawu (Part 2)

Cerita sebelumnya…
Sesampainya stasiun Tanah Abang kawanku yang lelaki memesan tiket, sedangkan aku dan Dewi mencari mushola terdekat untuk melakukan shalat maghrib. 

Selesai shalat aku langsung memakai sepatuku, khawatir mereka lama menungguku. Ternyata Dewi menungguku shalat dan dia berkata,”Me, kayaknya ada sedikit masalah deh…”
“Hah?! Masalah?!”, tanyaku cemas.
“Iya..! tadi ada masalah tiket me, si Zibow udah marah-marah aja tuh ma pegawe tiketnya, harga tiketnya dinaekin Rp.5000,-, sekarang sih udah selese kayaknya“, cerita Dewi cepat.
“Ya ampuuun…ko bisa gitu sih? Aneh banget!!”, jawabku ikut-ikutan kesal. Karena bagiamanapun, kalau sudah menyangkut soal uang, sensitivitas akan tiba-tiba meningkat mengalahkan wanita yang sedang PMS (premenstrual syndrome)—hehehe.
“Iya tau tu….! Yuk naek kereta, anak-anak udah di sana”, ajak Dewi padaku sambil menyerahkan tas yang kutitipkan tadi padanya. Akupun turut dibelakangnya.

Kami pun masuk kereta kelas Ekonomi itu,”hmmm…sumpek”, pikirku sekilas. Aku, Dewi dan Ripal menyusuri gerbong kereta yang di kiri-kanannya sudah dipenuhi oleh beraneka macam orang-orang yang hendak pergi dengan tujuannya masing-masing. Mereka menatap kami seperti orang dari belahan bumi yang berbeda. Betapa tidak, Ripal dengan tas Carier yang super besar—mungkin badanku juga bisa masuk tas itu jika meringkuk—sedangkan Dewi dan aku menggendong tas ransel dan tas kecil yang kami selempangkan—tempat praktis untuk mengambil barang-barang yang sangat diperlukan. Belum lagi mereka melihat Dado dan Zibow, yang juga sama seperti bawaan Ripal. Namun sejak selesai shalat maghrib tadi, aku tidak melihat mereka berdua.
Mungkin Ripal menangkap air mukaku yang bertanya-tanya dimana Dado dan Zibow “Ada, mereka di belakang me..”, kata Ripal.
“Ooooh…”, jawabku sekenanya.

Akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang satu bangkunya cukup untuk tiga orang, walaupun agak sedikit sempit. Kami pun duduk bersandar dan melihat keadaan disekeliling kami.
“Terus, yang laen duduk di mana?”, tanyaku pada Dewi.
Tetapi Ripal yang menimpali, “mereka mah bisa duduk dimana aja mee..”. Oh iya, tentu saja mereka bisa duduk dimana saja, secara mereka kan kerja di PJKA. Mereka ikut pendakian ini, karena mereka sedang libur dari tugas.

Bangku di hadapan kami terisi oleh sepasang suami istri, dimana sang istri sedang hamil 5 bulan dan satu lagi perempuan—mungkin kerabat dari salah satu pasangan ini—dan tujuan mereka adalah Pekalongan. Tak jauh dari tempat duduk kami, ternyata ada saudara dari Zibow yang juga hendak pergi ke Solo.

Kami menunggu jarum jam sampai di angka 7, tapi ternyata transportasi di negeri kita tercinta ini selalu saja tak tepat waktu—ngaret, apa harus dimaklumi terus hal semacam ini?

Udara di gerbong saat itu benar-benar tidak bisa kompromi. Bahkan hanya duduk pun, peluh kami keluar dengan sendirinya. Sepertinya ini akibat oksigen yang kami hirup secara berebutan di gerbong, sehingga karbondioksida yang dihasilkan melebihi udara yang kami hirup. Yang tidak habis pikir, ada saja penumpang yang merokok disaat udara kian menipis!! Terkutuklah si perokok itu!!

Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang teramat sangat panjang, kurang lebih memakan waktu 12 jam. Kereta pun perlahan-lahan melaju dengan kecepatan maksimal. Aku melayangkan pandang ke luar jendela. Malam, penuh dengan kerlipan lampu-lampu yang berwarna-warni—yaaah itulah kenapa Cirebon dikatakan kota berintan—selain Kota Udang, karena posisi Cirebon yang berada di dataran rendah dan jika dilihat dari atas pada malam hari akan bertebaran ratusan cahaya kerlap-kerlip yang berwarna-warni nan indah bagai intan bertebaran dimana-mana, dan hal ini mengingatkanku pada kejadian 21 tahun silam yang tak kan pernah ku lupa sampai saat ini—menambah semarak malam kepergianku menuju Solo.

Pukul 00.00 lewat, kereta kami berhenti di Cirebon, ingin rasanya turun dan pulang ke rumah. Hmmm..pasti mamah dan saudara-saudaraku sudah terlelap di buai mimpi. Ponselku berbunyi, ah ternyata SMS dari kakakku yang ke tiga, Mas Farid.
“Udah sampe mana nyon?”, isi SMS yang dia kirimkan—hanya dia yang memanggilku “Menyon”, entahlah dari mana awalnya mungkin plesetan dari namaku sendiri “Melani”. Walaupun begitu aku senang-senang saja dipanggil dengan sebutan itu, mungkin lebih kepada panggilan sayang.
Dah sampe Cirebon nih…pengen pulaaaaang…”, rengekku.
Yaah tau gitu sih, mas ikut kamu aja ke Lawu…”, balas smsnya.
Aaaah ga ga…yang ada malah gangguin lagi..”, jawabku.
Hahaha..Ya udahlah, ati-ati disananya…”, pesannya padaku.
Iyaaaa…..”, jawabku singkat.

Kereta berhenti cukup lama di Cirebon, ini dimanfaatkan penumpang untuk pergi ke kamar kecil atau sekedar menghirup udara malam yang segar, karena di dalam kereta sudah tidak karuan lagi seperti apa udara yang di hirup. Ini pun dimanfaatkan Dewi yang dari tadi ingin ke kamar kecil. Aku keluar untuk menghirup udara malam kota Cirebon. Banyak penumpang yang keluar juga untuk melepas lelah karena duduk terlalu lama, atau bahkan sudah tidak bisa merasakan lagi pantat mereka *hahahahah :p* selama perjalanan tadi.

Setelah satu jam berlalu, kereta melaju lagi dengan kecepatan maksimal dan meninggalkan Cirebon, kota kelahiranku. Kami pun terlelap untuk beberapa saat, setelah melewati beberapa stasiun kereta, tiba-tiba seluruh penumpang di gerbong yang kami tumpangi dihebohkan dengan adanya pencopetan yang ditaksir lebih dari satu orang pelakunya, si pelaku mencopet HP dan dompet dari salah satu penumpang laki-laki. Aku pun sebenarnya sempat panik, karena bisa saja orang yang disebelahku pelakunya—Ripal donk *eh!! ;p

“Apa yang ilang mas??”, tanya para penumpang
“HP sama dompet saya!! Tadi saya lagi duduk di bawah, HP ada di saku depan kemeja saya! Dompet di saku celana belakang! Haduh gimana ini?!”, jawabnya panik.
“Oooo kayaknya yang banyak orang jualan bolak-balik itu kali ya,,biasanya mereka ga sendiri, tapi banyakan, udah joinan gitu sesama pedagang”, kata seorang penumpang yang sepertinya tahu tentang seluk beluk kereta ekonomi ini.

Sempat ada seseorang yang Dewi curigai, dan menyuruh Ripal untuk menanyakan warna HP yang hilang. Namun ternyata orang yang dimaksud Dewi bukan pelakunya.
Tak lama setelah itu, kejadian serupa pun terjadi lagi, namun kali ini di gerbong sebelah yang kebetulan Dado dan Zibow berada tak jauh dari situ. Dia mengirimi SMS ke Ripal kalau di gerbong sebelah juga ada yang kecopetan—hmmmm..nasiiiib,nasiiib…beginilah hidup merakyat, harus menelan pil pahit kenyataan hidup.

Kejadian copet tadi membuat seisi gerbong waspada, tak terkecuali aku. Itu adalah pelajaran yang patut kita petik hikmahnya, kita sebagai manusia harus tetap terjaga dengan keadaan di sekelilingnya, waspada dalam situasi apapun.

To be continue….

dado ma zibow @kereta ekonomi AC




Depok, 17 Oktber 2011
00.03 WIB

Mencoba berdamai dengan hati

Tak sepantasnya aku menghujatMu Tuhan
Apalah aku ini
Aku hanya insan yang menikmati salah satu rasa ciptaanMu
Ya, Tuhan..benar,"cinta"
Cinta yang dapat membolak-balikan hati
Hingga mampu menutupi akal sehat...

Ketika kening lebih rendah dari tumit
Aku memohon ampun padaMu
Bersujud di setiap malam-malamMu
Atas rasa cinta yang ku miliki
Ampun atas keegoanku
Ampun atas kenaifanku
Ampun atas kesombonganku
Ampun atas kelalaianku
Ampun atas segala tingkah dan laku yang ku perbuat

Yaa Qoyyuum...
Hamba hanyalah insan yang juga ingin mendapatkan rasa bahagia
Walau hanya secuil...
Ingin pula dicintai dengan cara yang baik
Tanpa ada hati yang tersakiti
Seperti halnya gemintang yang selalu setia pada rembulan Tuhan..

Yaa Latif...
Pertemukan hamba dengan belahan jiwa hamba
Mudahkan jalannya menuju hamba
Dan mudahkan jalan hamba menujunya
Agar kami dapat menikmati agungnya rasa ciptaanMu

Karena pada akhirnya
Semua insan ingin mendapatkan akhir cerita yang bahagia
Tak terkecuali Tuhan,
Akupun sama....

Rabu, 12 Oktober 2011

Glenn - "Sekali Ini Saja"

Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan

Chorus:
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja

Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan

Chorus:
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja

Tak sanggup bila harus jujur
Hidup tanpa hembusan nafasnya

Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini, biarkan cinta ini
Hidup untuk sekali ini saja

*mmmm....terinspirasi dari pengamen di Kota Tua
diulik ah...nanti masukin youtube hahaha ;p

Selasa, 04 Oktober 2011

Menapakimu......Lawu (Part 1)

“….semburat jingga di ufuk timur, membawa kembali kenangan yang telah lama mengendap di sudut jiwa….” 

"Nanti di sana bakalan dingin lho neng”, ucap kakak lelakiku memperingatkan berkali-kali. Sampai aku pusing sendiri mendengarnya.
Dia mempersiapkan semua perlengkapan mendakiku. Sebenarnya yang mau mendaki gunung itu aku atau kakakku sih? Aku pun tahu apa-apa saja yang harus di bawa. Karena sering sekali kakakku bercerita tentang pengalaman pendakiannya di berbagai daerah, apa saja yang harus di bawa, menjaga kelakuan kita selama mendaki, dan lainnya. Pernah dia menjajikan aku untuk turut serta mendaki bersamanya, tapi sampai sekarang tak pernah terwujud. Aku juga memaklumi, dia yang seorang pekerja mana ada waktu untuk menaklukan gunung tinggi lagi. Ditambah lagi statusnya sekarang yang sudah berumah tangga.
“Bawa jaketnya yang tebel, biar ga kedinginan”, kata kakakku lagi.
“Iya maaas….ini udah bawa yang tebel”, jawabku meyakinkannya.
Seluruh perlengkapan sudah siap, waktunya aku berangkat. Setelah berpamitan pada kakakku dan iparku, aku langsung menuju stasiun Depok Lama. Di sanalah aku menunggu kawan-kawanku—lebih tepatnya, kawan-kawan baruku—untuk berangkat menuju stasiun Tanah Abang. Lumayan lama aku menunggu mereka. Aku menyapu semua wajah yang ada di stasiun itu, mungkin saja temanku Dewi sudah mununggu di sana. Tapi ternyata nihil. Tak ada satupun yang ku kenal. Oh iya, Dewi ini yang mengajakku naik gunug. Cuma dia yang ku kenal, selebihnya tidak. Ku tekan-tekan ponselku, mencoba mengabarkan dia kalau aku sudah sampai stasiun Depok Lama.
Lama berselang dan waktu menunjukkan pukul 15.28 WIB,,,Ponselku berbunyi,”Mee…di mana? Aku udah nyampe ni!” ucapnya dari seberang telepon, ternyata Dewi yang menelponku.
Aku langsung berdiri dari dudukku dan melihat sekeliling, “Aku juga udaaah…kau dimana?”
“Me, me, me! Aku liat kamu…liat ke depan deh ada yang segerombolan kan? Aku pake kerudung pink..”
Dan ternyataaaa……TARAA!!! AKU SALAH PERON! Ooooh sungguh memalukan! Ceroboh, sepertinya sudah menjadi teman baikku, hmmm…
“Oh iya udah keliatan…”, langsung kututup ponselku dan segera menghampiri mereka dengan senyum yang dipaksakan untuk menutupi rasa maluku.
Disanalah aku mengenal Ripal, Dado, dan Zibow. Sikap ketiga kawan baruku ini cukup bersahabat, aku pun merasa nyaman berbincang bersama mereka. Kami berlima berencana untuk menaklukan Gunung Lawu yang letaknya di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur.
Tak berapa lama, kereta Ekonomi AC yang kami tunggu datang juga. Kami pun langsung berangkat menuju Tanah Abang. Sesampainya disana kami pun langsung memesan tiket. Kali ini kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi tujuan Solo Jebres—padahal tadi ketika aku di kereta Ekonimi AC, kakak meneleponku dan bertanya naik kereta apa menuju Solo? Aku bilang padanya kalau kami nanti akan naik kereta Bisnis—
Ketika adzan maghrib berkumandang, aku langsung mencari mushola untuk melakukan shalat maghrib. Kebetulan Dewi sedang berhalangan, jadi dia absen dulu dari shalat lima waktu. Sedangkan yang lainnya, mereka titip doa saja katanya padaku, sambil terkekeh aku menggelengkan kepala.
Selesai shalat aku langsung memakai sepatuku, khawatir mereka lama menungguku. Ternyata Dewi menungguku shalat dan dia berkata,”Me, kayaknya ada sedikit masalah deh…”
“Hah?! Masalah?!
 
To be continue…….

Minggu, 03 Juli 2011

Di Stasiun Kecil Itu


Ku hampiri loket pembelian karcis kereta di stasiun itu, ’TUTUP’. Hah?! Jam 16.00 masih tutup??pikirku. Kupandangi stasiun kecil itu, "hmmm....pantesan aja". Sepi. Aku pun mulai cemas. Dan aku mengutuk si abang angkot tadi yang menurunkan aku di sini. Haaaa...legaaa, ternyata masih ada kehidupan di stasiun ini. Kulihat sepasang kekasih sedang duduk menunggu kereta.

Aku pun langsung menghampirinya,”maaf mas mau tanya, ko tempat karcisnya tutup ya??”, tanyaku.

Dia pun menjawab,”iya mba, disini loketnya buka jam 5 sore.”

Aku terdiam sejenak...dan berpikir, jelas saja buka jam 5 sore, stasiun ini sepi bangeeettt...heuu.

Disaat aku sedang menunggu loket karcis buka, datanglah seorang lelaki dengan menjinjing tas raket ditangannya. Dia pun menanyakan hal serupa pada kedua sejoli itu. Lama ku menunggu –mungkin kalau saja HP-ku tidak lowbat sudah berpuluh-puluh lagu ku dengar- aku menghela nafas dalam-dalam. Perjalan yang cukup melelahkan, hanya untuk “menggambar gratis”, batinku. Tapi bagaimana pun juga ini awal dari semuanya, atau lebih tepatnya untuk menyalurkan hobiku. Menunggu loket buka rasanya hampir setahun,huhft....Dengan muka kesal aku, mengomel tak jelas mengomentari kedatangan kereta yang super lama. Tiba-tiba datang seorang bapak tua –setengah baya kira-kira usianya-.

Dengan alis berkerut dan berkata cukup keras,”Jam segini belum juga buka??! Astagfirullah..!!”.

Hmmm...ternyata bukan aku saja yang merasakannya.

Dia menoleh padaku dan berkata,”belum buka mba?”

Aku jawab saja dengan senyum kecut,“belum pak.”

Hampir satu jam berlalu, sepertinya tak ada tanda-tanda loket karcis untuk membuka tirainya.

“Ha!!! Itu udah buka mba!”, teriaknya senang.

Aku yang terdiam dengan pikiranku melayang entah kemana, terkejut dengan teriakan bapak tua itu. Semangat sekali pikirku. Dan kami pun mengantri untuk membeli tiket. Tiket sudah ditangan, kini tinggal galau menunggu kereta tiba. Ketika sedang duduk menunggu kereta datang, tiba-tiba bapak tua tadi mengejutkan ku kembali.

“mba baru pulang kerja yah?”

“ngga pak...,” jawabku pendek

“saya dari jam setengah empat lho mba nunggu kereta...sampe saya sempet cukur rambut dulu...!”, dengan menunjukkan hasil cukuran dari balik topinya yang terpangkas habis.

Aku lihat jam tanganku,“waah emang waktunya cukup banget pak buat nyukur rambut, malah lebih...haha”, candaku padanya.

“hahahahaaaa...iya mba bener!! Saya liat di jadwal jam 16.15 lho...ah daripada nunggu lama, mending saya nyukur rambut dulu”

“iya ya pak”, jawabku sekenanya.

Dari perangainya bapak tua ini seorang yang pandai bergaul, baik, humoris, dan kami pun terlibat dalam pembicaraan yang cukup untuk membuatku sedikit terhibur di stasiun yang sangat sepi ini. Entah dari mana awalnya pembicaraan kami, dan tiba-tiba dia bilang,

“anak saya mengajar di sekolah aliyah, sebentar lagi mau diangkat jadi PNS, insya Allah. Umur anak saya 22 tahun, mba...anak kedua saya laki-laki baru naik kelas 3 SMA. Tingginya 180 mba...”,terdiam sejenak dia, seolah menunggu untuk dikomentari dariku.

“waaah tinggi banget pak anaknya?”, karena kulihat perawakan sang ayah yang tidak begitu tinggi.

“iya mba,ikutan basket dia...sekarang dia ngelatih basket di SMP, yaah lumayanlah mba buat uang jajan dia sendiri, tapi kadang dia juga tetep minta ma saya, hehe”, sambil terkekeh dan menggelengkan kepala tertunduk.

“ooo..panteees, tapi hebat ya pak, jadi pelatih basket...”, timpalku dengan senyum diakhir kata.

“maaf bapak punya anak berapa?”, tanyaku tak penting.

“anak saya cuma dua mba, yang perempuan ini, dia sudah 6 kali ganti pacar lho mba...setiap ada yang datang kerumah ni, saya lihat bagimana orangnya mba”.

Dengan muka serius dia bercerita tentang anaknya dan akupun mulai hanyut terbawa dalam cerita-ceritanya.

“maksudnya bapak ‘lihat’”,tanyaku menyelidiki.

“iya mba, saya lihat dulu...kalo pas dateng jamnya sholat, trus ada bunyi bedug dia diem aja...kebangetan, gimana nggak mba orang mesjidnya diseberang rumah saya. Tapi bener lho mba, kalo soal yang satu ini saya ga bisa diem aja”.

Akupun hanya meng-iya-kan perkataannya dan manggut-manggut. Lalu dia mengejutkan aku dengan pertanyaan yang menjurus.

“maaf ni mba, mba udah nikah?”

“Belum”,

“kalo pacar?”

“ga punya”, bibirku dipaksakan untuk tersenyum

“atau mba lagi pendekatan sama orang?”, tanya dia penasaran.

“ga ada pak...”, jawabku mulai risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukkan.

Dari raut mukannya dia seperti tidak percaya dengan jawaban-jawaban yang aku lontarkan padanya. Tapi memang begitu keadaannya, mau gimana lagi?

“saya kasih tau ya mba, jangan pernah memberi peluang sama laki-laki yang menurut mba bukan orang yang tepat buat mba, kalau mba udah ada calon, sebaiknya sholat istikharoh dulu”, nasihatnya.

“saya selalu bilang sama anak saya, ‘ndoo cari pasangan hidup itu kamu harus bisa melihat bagaimana dia dari dalemnya, jangan diliat dari luarnya aja, do’anya ya Allah jika dia jodohku dekatkanlah, jika bukan jodohku jauhkanlah’”

Aku hanya menggangguk kecil. Seperti seorang anak yang dinasihati ayahnya.

“kalo do’a orang tua beda lagi mbaaa...’ya Allah tunjukkanlah pada hamba jika memang itu jodoh anak hamba’”, dengan muka serius.

Ya Allah seperti disambar petir...aku langsung teringat sosok lelaki tua di sana yang tak pernah memberiku nasihat, seperti yang bapak itu katakana pada anaknya. Ingin aku menangis saat itu juga, tapi kutahan air mataku untuk tidak mengalir deras dipipiku.

“yaaah mba, meskipun saya kerja di pasar, saya ingin anak-anak saya sukses dan bahagia dunia akherat”, tambah bapak tua yang bekerja di pasar Kramat Jati itu.

“Mantan pacar saya –istri saya mba- orangnya cerewet, tapi baik. Saya selalu bilang sama istri saya, kalo ada masalah dan bapak baru pulang kerja, tunggu bapak mandi dulu, makan dulu, sholat dulu, baru cerita, diskusiin bareng-bareng. Soalnya pernah mba, pas saya dateng, dengan keadaan cape dari pasar, dia langsung ngomel-ngomel. Saya liatiiiin aja, saya dengerin. Selesai ibu ngomel-ngomel mba, saya cuma bilang ‘udah bu?’, si ibu terus nangis mba. Itu kalo saya lagi tahan ngadepinnya mba, tapi kalo saya lagi ga tahan ni mba udah di ubun-ubun misalnya, saya langsung ke kamar mandi mba...”

“kamar mandi?? Ngapain pak?”, tanyaku terheran-heran

“iya kamar mandi”, dia menegaskan

“saya buka baju, langsung saya naik ke bak, berendem sampe kepala saya ga kliatan...terus saya ucapin omongan-omongan kotor di dalem air mba...seperti b*n*s*t misalnya, kan pasti ga kedengeran tuh, biarpun saya tereak sekenceng apapun...yang ada cuma gelembung-gelembung aja yang keluarkan mba?hehe”, ucapnya terkekeh, namun benar juga fikirku, tanpa ingin menyakiti hati sang istri dengan ucapan kotor, dia ‘rendam di dalam air dingin’agar isi kepala yang keluarpun menjadi dingin kembali.

“atau kalo ga mba...saya langsung keluar rumah,tunggu sampe sejam, saya bel ibu, marahnya pasti udah reda, ya saya balik lagi ke rumah mba”, ceritanya dengan semangat.

“tapi mba...alhamdulillah, ini –sambil mengangkat kedua tangannya- ga pernah saya lakukan”, sambil menggelengkan kepalanya mantap, kalau dia tidak pernah memukul istrinya dengan kedua tangannya itu.

Aku mengerutkan kening, sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“saya ga mau kalau tangan ini sampai mendarat di istri saya, karena nanti, disuatu saat nanti, anak perempuan saya pasti akan dikasari oleh suaminya, saya ga mau itu mba...”

Lalu bagaimana dengan lelaki tua di sana? Adakah dia memiliki hati pada wanita yang dinikahinya berpuluh-puluh tahun yang lalu...tangan dan lisannya tak pernah dia jaga, ya Allah. Akankah jika ucap bapak itu benar ‘disuatu saat nanti anak perempuan saya pasti akan dikasari oleh suaminya’, ya Allah jangan sampai itu terjadi.

“...”, aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya yang terakhir.

Mulutku tertutup rapat.

“saya kan orang pasar ya mba, malem ga di rumah, pernah saya tanyakan sama istri saya ‘ibu nyesel nikah sama bapak?’ istri saya geleng kepala mba, saya tanya lagi ‘ibu nyesel tiap malem ga tidur sama bapak?’, istri saya geleng kepala lagi...saya bilang ‘alhamdulillah’”

“istri bapak sabar ya pak...” kataku padanya

“bukan mba, bukan sabar...tapi istri saya menerima saya apa adanya dan saya merasa kasihan padanya”, ucap bapak itu.

Wuzzzzzz...!!! kereta yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

“nah tuh! Keretanya dateng mba!”, ucapnya semangat.

Aku mengikuti langkahnya dari belakang, sambil mencerna semua cerita yang diucapkannya tadi sembari menunggu kereta datang.

Mungki menurutnya, cerita tadi adalah cerita untuk mengusir waktu senggang. Tapi menurutku, cerita tadi merupakan cerita yang begitu sarat akan makna hidup,yaaa...walaupun hanya beberapa menit kami berbincang-bincang, itu merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Ketika dia sampai di tempat tujuannya, dia berpamitan padaku.

“saya turun di sini mba...assalamua’alaikum”

“oh iya pak, wa’alaikumssalam,hati-hati ya pak...”, ucapku. Entah terdengar olehnya atau tidak.

Selama perjalanan pulang, masih kuingat semua perkatannya, masih kuingat jelas raut wajahnya ketika dia bercerita, masih kuingat jelas gerak tubuhnya ketika dia mengangkat kedua tangannya, dan sorot matanya yang teduh serta dapat mendamaikan keluarga kecilnya, yang tak dapat ku temukan di lelaki tua itu.

Ingin aku bertemu kembali dengannya untuk sekedar mengucapkan sesuatu yang tertinggal...

“makasih ya pak...” ;)

Rabu, 22 Juni 2011

Kings Of Convenience - Homesick

I lose some sales
and my boss won't be happy
but I can't stop listening to the sound
of two soft voices blended in perfection
from the reels of this record that I found

every day there's a boy in the mirror
asking me
what are you doing here
finding more that previous motifs
growing increasingly unclear

I travelled far and I burned all the bridges
I belived as sooned as I hit land
all the other
options held before me
wither in the light of my plan

so I lose some sales
and my boss won't be happy
but there's only one thing on my mind
searching boxes underneath the counter
on a chance that on a tape I'd find

a song for
someone who needs somewhere
to long for

homesick
cause I no longer know
where home is

Jumat, 10 Juni 2011

Chord Winda Idol-"Kutemukan Penggantinya"

Author : Chord Frenzy


[intro] Gm F Dm D#

Gm F Dm D#
sebuah kisah tertulis indah di masa lalu
Gm F Dm
tak teraba oleh hati siapapun
Gm F Dm D#
hingga kau hadir dengan segala kelemahanmu
Gm F Dm
cacat hidupmu menyempurnakanku

Gm F D# A#
kesakitanku bertambah pahit
Gm F D#
ketika harus aku akui
Gm F D# A#
aku menahan rasa cintaku untukmu
Gm F C
namun kau tetap ada

[chorus]
Gm F Dm D#
kau hadir dalam bayangan yang tak pernah ku anggap
Gm F Dm
kau ada di dalam bayangan semu
Gm F Dm D#
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
Gm F C
kau menyayangku dan buatku berkata
ku temukan penggantinya

[int] Gm F Dm D#
Gm F Dm

Gm F D# A#
kesakitanku bertambah pahit
Gm F D#
ketika harus aku akui

[chorus]
Gm F Dm D#
kau hadir dalam bayangan yang tak pernah ku anggap
Gm F Dm
kau ada di dalam bayangan emu
Gm F Dm D#
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
Gm F Dm
kau menyayangku dan buatku berkata

Gm F Dm D#
kau hadir dalam bayangan yang tak pernah ku anggap
Gm F Dm
kau ada di dalam bayangan emu
Gm F Dm D#
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
Gm F C
kau menyayangku dan buatku berkata
Gm F Dm D#
ku temukan penggantinya
Gm F Dm D#
ku temukan penggantinya
Gm F Dm D#
ku temukan penggantinya
Gm F Dm D#
uuu oooho uooooohooo
Gm F Dm D#
ku temukan
Gm F Dm D#
hoouuu ooouooo huuoohooo